Dijuluki negara agraris tapi 60% bahan baku industri RI gantungkan impor

Rabu, 18 April 2018 | 23:24 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Sejatinya Indonesia dikenal sebagai negara agraris. Namun, ironisnya berbagai kebutuhan pangan masyarakat khususnya sektor industri justru dipasok dari ipor.

Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati mengatakan ketergantungan impor kian bergeser ke pemenuhan kebutuhan pangan pokok. Tidak hanya sekadar lonjakan impor gandum yang notabene memang tidak mampu diproduksi di iklim tropis. Namun mulai dari impor gula, kedelai, bawang putih, daging, beras dan yang lain mengalami peningkatan.

"Bahkan, bahan baku industri makanan pun lebih dari 60 persen harus dipenuhi dari impor. Sekalipun sampai akhir 2017 neraca perdagangan sektor pertanian masih mencatat surplus, namun hanya karena berkah sektor perkebunan yang surplus mencapai USD 26,7 miliar," kata Enny di Jakarta, Rabu (18/4/2018).

Sementara itu, neraca perdagangan tanaman pangan defisit US$ 6,23 miliar, hortikultura defisit US$ 1,79 miliar dan peternakan defisit US$ 2,74 miliar."Artinya, sektor pangan bukannya semakin menuju pada kemandirian, justru semakin menyandarkan kecukupan pasokan pangan dari impor. Upaya menjaga stabilitas harga pangan lebih didominasi kebijakan importasi, dibanding implementasi strategi pembangunan pertanian menuju bangsa mandiri pangan,” terangnya.

Jika kebijakan impor pangan ini tak bisa diminimalkan, maka cita-cita kemandirian pangan akan sulit direalisasikan. Kesempatan serupa, Ahmad Heri, peneliti Indef  lainnya mengatakan sektor pertanian dengan impornya yang tinggi sangat menguras kantong devisa negara. "Sektor pertanian ini benar-benar membuang devisa negara. Kontribusi ekspor kecil malah kontribusi impornya semakin besar," ujarnya.

Dalam 10 tahun terakhir rata-rata ekspor sektor pertanian tidak lebih dari delapan persen. Sementara impor terutama sayuran dan buah-buahan pertumbuhannya sangat masif terutama dalam 3 tahun terakhir ini."Kita keluar (ekspor pertanian) susah tapi begitu mudahnya masuk ke dalam (impor). Kita cuma unggul di produk kelapa sawit, yang lain semua rata-rata di bawah,” pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: