Ini cara agar tenaga listrik tenaga hidro terjangkau

Kamis, 19 April 2018 | 17:28 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Potensi energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia dari tenaga hidro atau air sangat berlimpah dan mampu menghasilkan 75.000 megawatt (MW), namun sayangnya baru dapat dimanfaatkan tujuh persen. Hal itu disebabkan sumber energi hijau berada jauh dari kawasan industri.

Supaya anugerah alam yang mampu mengurangi emisi gas rumah kaca serta menjaga tarif listri murah itu mampu dioptimalkan maka perlu segera digarap. Langkahnya dengan mendekatkan demand seperti pusat industri dengan sumber EBT.

"Yang perlu dilakukan untuk menikmati anugerah alam berupa EBT dari sektor tenaga air yang memiliki sumber energi sekitar 75.000 MW dengan melakukan pendekatan demand creation. Itu berarti pemerintah perlu membangun wilayah industri baru di tempat-tempat sumber EBT seperti yang telah dilakukan Malaysia," terang Senior Advisor Andritz Hydro Adhi Satriya di Jakarta, Kamis (19/4/2018).

Menurut  Adhi pemanfaatan energi ramah lingkungan terkendala jarak. Sumber EBT di Indonesia berjarak sangat jauh dengan wilayah industri sehingga potensi besar EBT kurang dirasakan dan lebih memilih energi fosil sebagai sumber energi listrik.

Padahal, menurut Adhi  kondisi yang sama juga dialami negara lain. Jangan jauh-jauh, sebut saja Malaysia yang juga memiliki potensi EBT namun berjauhan dengan titik permintaan. Tetapi, negeri ziran itu tidak kehabisan akal. Mereka membangun pusat industri lengkap dengan infrastruktur berdekatan dengan sumber EBT.

"Ini bukan angan-angan atau mimpi. Ada Pembangkit Listrik Tenaga Air yang skala besar kemudian pemerintah menyediakan industrial complex jadi datang investor industri dan pembangkit. Jadi solusi pemanfaatan EBT ini dengan membangun permintaan lengkap dengan infrastrukturnya," tuturnya.

Ia mengatakan konsep serupa sudah diilhami PT ndonesia Asahan Aluminium (Inalum) yang memiliki pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Langkah ini sangat visioner karena menunjukan kemandirian melalui pemanfaatan EBT.

"Investasi EBT memang besar di awal, berbanding terbalik dengan fosil tetapi hasilnya jauh berbeda baik terhadap alam, maupun tarif. EBT akan menjaga lingkungan tetap lestari serta tarif yang murah seiring berjalannya waktu dan energi fosil sebaliknya ditambah ketidakpastian harga batu bara, minyak serta gas. Ini yang harus terus disadarkan terkhusus pemerintah," kata dia.

Herman Agustiawan, Wakil Chief Executive Officer Andritz Hydro mengakui pengembangan pembangkit EBT tenaga air terkendala mahalnya investasi. Namun itu hanya terjadi di awal. Jika proyek sudah berjalan maka biaya pengelolaan sangat minim, karena sumber dayanya gratis diberikan alam. Adapun biaya  teknologi hanya berkotribusi 20-30$ dari keseluruhan total  investasi.

“Mahal justru diya pekerjaan sipilnya, seperti membuka jalan, membangun fasilitas transportasi misalkan bandara, pelabuhan, kan itu harus kirim alat dan lainnya. Itu yang membuatnya jadi mahal,” kata dia.

Menurut Herman kemauan dari pemerintah juga memiliki andil. Pengembangan EBT tidak lepas dari campur tangan pemerintah, baik pusat maupun daerah yang memiliki potensi yang dimiliki.“Solusinya ya government will itu saja, tidak hanya pusat ya tapi daerah juga. Sisihkan saja dana anggaran, nanti buat bantu bangun pembangkit pasti bisa sebenarnya,” pungkasnya. kbc11

Bagikan artikel ini: