RI siap ekspor produk hasil peternakan ke tiga negara ini

Jum'at, 20 April 2018 | 23:24 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Indonesia terus menggenjot ekspor produk hasil peternakan ke sejumlah negara. Kali ini PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk mengekspor produk olahan peternakan ke tiga negara yakni Timor Leste, Jepang dan Papua Nugini senilai US$125.254.

Direktur PT CPI Thomas Effendy mengatakan ekspor ke Timor Leste dan Jepang ini menjadi yang perdana dilakukan perusahaan.Sementara ekspor ke Papua Nugini adalah yang keempat sejak ekspor perdana 2017.

Menurut Thomas upaya ekspor produk peternakan dilakukan karena terjadi kelebihan suplai di pasaran dalam beberapa tahun terakhir. "Menilik kondisi yang demikian, Menteri Pertanian mengarahkan untuk melakukan ekspor hasil produksi tersebut ke Iuar negeri sebagai solusi untuk menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan dalam negeri," kata Thomas di di Jakarta, Jumat (20/4/2018).

Ekspor produk hasil peternakan ke Jepang merupakan prestasi yang sangat baik mengingat negara tersebut sangat memperhatikan faktor keamanan pangan konsumennya. Ia menjelaskan sejak 2014 teIah mengirimkan Kementerian Pertanian, Kehutanan dan Perikanan (MAFF) untuk secara berkelanjutan melakukan penilaian kepada unit usaha pengoiahan makanan PT CPI.

Penilaian terakhir dilakukan pada 2017. HasiI peniiaian produk yang diizinkan ekspor ke Jepang meningkat secara signifikan dari hasii kunjungan sebelumnya dan produk tersebut dapat diterima oleh konsumen Jepang.

"Dari hasil penilaian terakhir yang dilakukan oIeh deiegasi MAFF Jepang membuat kami semakin optimis untuk memasuki pasar Jepang sebagai pasar ekspor pertama kami di Iuar negara Asia Tenggara," ujar dia.

Ekspor daging ayam olahan akan dikirim sebanyak 6.890,10 kg ke Timor Leste,6.696 kg daging ayam olahan ke Jepang dan 8.585 kg daging ayam olahan ke Papua Nugini.

Selain daging ayam olahan, ekspor produk lain ke Papua Nugini juga dilakukan berupa pakan ternak Feed LK 2.420 sebanyak 120.000 kg, 63.709 kg minuman kemasan dan anak ayam berusia satu hari (day old chick/DOC) 5.000 ekor. Ekspor DOC akan dilepas dari Kupang pada Mei nanti.

Kesempatan sama Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan ekspor produk hasil produk perternakan ini merupakan bukti produktivitas ayam nasional tinggi dan berkualitas.Bukan hanya itu dengan surplus yang ada Indonesia siap memasok kebutuhan pangan bukan hanya untuk kebutuhan domestik.

Amran menyebutkan saat ini produksi ayam ras nasional mengalami surplus dibandingkan dengan kebutuhan nasional. Statistik Peternakan 2017 menunjukkan populasi ayam ras pedaging (broiler) mencapai 1,69 miliar ekor, lalu ayam ras petelur (layer) mencapai 166,72 juta ekor dan ayam bukan ras (buras) mencapai 310,52 juta ekor.

Sangat berlebih jika dibandingkan data konsumsi daging ayam ras masyarakat Indonesia sekitar 11,5 kg/kapita/tahun, dan konsumsi telur 6,53 kg/kapita/tahun.Karena itu, menurut Amran Indonesia telah telah swasembada protein dan bahkan ekspor.

Amran pun mengatakan polemik soal swasembada daging sapi dan sebagainya, sudah dapat terjawab melalui tersedianya protein lain yang disediakan oleh daging ayam.

"Tubuh ini kan tidak ngerti ayam atau sapi, yang ngerti itu protein. Ayam dan telur protein 17 persen daging 18 persen. Jadi di kepala swasembada daging, sekarang kita swasembada protein hari ini," tegasnya.

Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan I Ketut Diarmita  untuk mendapatkan persetujuan dari negara calon pengimpor tidaklah mudah. Sejumlah kebijakan Kementan telah mendorong peningkatan kualitas ayam yang akan diekspor, diantaranya menerapkan prinsip-prinsip kesejahteraan hewan (animal welfare), dan telah mendapatkan Sertifikat Kompartemen bebas penyakit Avian Influenza (AI).

Selain itu, pihaknya juga sangat memperhatikan Sertifikat Veteriner sebagai bentuk penjaminan pemerintah terhadap pemenuhan persyaratan kelayakan dasar dalam sistem jaminan keamanan pangan produk hewan.

Meski diakui dibutuhkan setidaknya lima tahun menjalankan sistem kompartemen dalam suatu wilayah unit pengolahan yang dimonitor secara berkala.Setiap unit pengolahan usaha akan mendapat sertifikat bebas AI agar mengekspor produknya.

Data Badan Pusat Statistik menyebutkan pencapaian nilai ekspor komoditas subsektor peternakan 2017 mengalami peningkatan sebesar 14,85% dibandingkan 2016. Nilai ekspor US$623,9 juta atau setara dengan Rp 8,5 triliun.

Kontribusi volume ekspor 2017 untuk subsektor peternakan merupakan yang terbesar pada kelompok hasil ternak, yakni sebesar 64,07%. Salah satunya adalah daging ayam. Negara tujuan ekspor subsektor peternakan terbanyak adalah Hongkong (23,10%) dan China (21,96%).

Secara khusus, ekspor daging ayam tahun 2017 mencapai sebesar 325 ton, meningkat 1.800% dibandingkan tahun sebelumnya. Begitu juga dengan ekspor telur unggas sebanyak 386 ton atau meningkat 27,39% dibanding 2016.

Secara sub sektor peternakan Indonesia turut meningkatkan ekonomi negara. Selama 2015-2017 misalnya, rata-rata pertumbuhan volume ekspor mencapai 8,16%, dan nilai ekspornya sebesar 18,69%.kbc11

Bagikan artikel ini: