Komitmen tekan backlog rumah, Perwiranusa Jatim siap cetak pengembang baru

Minggu, 22 April 2018 | 23:59 WIB ET
Para peserta didik Yayasan Jiwa Nala saat diwisuda pada Sabtu *21/4/2018).
Para peserta didik Yayasan Jiwa Nala saat diwisuda pada Sabtu *21/4/2018).

SURABAYA, kabarbisnis.com: Tingginya angka kekurangan pasokan (backlog) rumah di Tanah Air masih menjadi pekerjaan rumah. Meski pemerintah telah merilis program Sejuta Rumah guna mengejar pemenuhan akan kebutuhan rumah khususnya untuk masyarakat berpenghasilan terbatas (MBT), namun toh belum mencapai target.

Kondisi ini mengusik para pengembang yang tergabung di Perkumpulan Wirausahawan Rumah Rakyat Nusantara (Perwiranusa) untuk ikut bertanggung jawab mengurangi angka backlog rumah di Tanah Air. Salah satunya dengan memperbanyak jumlah pengembang, yakni melalui dibentuknya sekolah properti, Jiwa Nala.

Ketua Perwiranusa Jawa Timur, Tri Sugiyanto menuturkan, perlu ada sinergi yang erat antara pemerintah dan swasta guna menekan laju jumlah backlog rumah. Pemerintah dengan regulasinya yang mendukung kemudahan dalam pembangunan rumah bersubsidi, sementara swasta juga ikut membangun rumah bersubsidi sesuai aturan dan tentunya yang layak huni.

"Pembentukan sekolah properti ini juga didasari atas rencana Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk menerapkan Sertifikasi Laik Fungsi (SLF) untuk hunian yang tergabung dalam program Fasillitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). Jadi kita menciptakan pengembang-pengembang baru yang tahu aturan, dan tahu teknis bangunan yang layak huni," kata Tri di sela gathering dan workshop dengan tema “Ada Gula di bisnis Properti” yang digelar Perwiranusa Jawa Timur di Surabaya, Sabtu (21/4/2018).

Dijelaskannya, saat ini pihaknya sudah menyelesaikan pendidikan angkatan I di sekolah properti Jiwa Nala, yang diikuti 13 orang calon pengembang. Dia optimistis pendidikan itu akan terus berkelanjutan, mengingat minat masyarakat untuk ikut bergabung cukup tinggi.

"Kita untuk Perwiranusa Jawa Timur sendiri menargetkan rata-rata ada 10 peserta didik alias calon pengembang di setiap bulan atau angkatan. Jika demikian, setiap tahun kita menciptakan 120 pengembang baru. Jika masing-masing ini bisa menjalankan bisnisnya, misalnya dengan minimal 100 unit rumah, sudah bisa memasok 12 ribu unit rumah," bebernya.

Terkait pasar, Tri menyebut, untuk rumah bersubsidi, pasarnya sudah ada. Bahkan pihaknya saat ini telah menggandeng sejumlah pihak yang memiliki captive market, seperti Go-Jek, TNI, serta para pensiunan PNS dan TMI/Polri.

"Artinya kita bantu pengembang baru ini untuk maju, karena kita punya semuanya, pasar, suplier bahan bangunan, hingga perbankan kita siap gandengkan," ujarnya.

Sekretaris Perwiranusa Jawa Timur, Misbahul Huda menambahkan, pada kesempatan wisuda angkatan I sekolah properti Jiwa Nala, juga digelar gathering dan workshop bertema “Ada Gula di bisnis Properti”. Kegiatan ini diisi dengan sinergi dan konsolidasi antar pemangku kepentingan; investor dan lembaga keuangan (BNI Syariah, BTPN), pemilik lahan, pemasar dan manajemen proyek, serta kalangan pendidikan properti.

Yayasan Pendidikan Jiwa Nala Surabaya merupakan badan usaha yang dibentuk untuk kegiatan sosial atau pelayanan masyarakat, berkedudukan di Surabaya berdiri pada 1969. Selain menyelenggarakan pendidikan SD dan SMP, Yayasan Jiwa Nala juga menyelenggarakan sekolah properti yang sudah berjalan satu angkatan.

“Saya berharap dengan diselenggarakannya kegiatan ini dapat memberikan wawasan atau inspirasi bagi pengembang dan pemasar perumahan juga menjadi tonggak strategi serta dapat mengkoordinasikan dan mengkonsolidasikan bagi seluruh stake holder, pengembang,  pemasar perumahan, perbankan dan pendidikan properti yang terdapat di Provinsi Jawa Timur," ujarnya.

Sekadar diketahui, Perwiranusa sendiri merupakan transformasi dari Asosiasi Pengembang dan Pemasar Perumahan Nasional (Asprumnas). "Perwiranusa menjadi wadah profesi bagi para pengembang perumahan rakyat di Indonesia tetap konsisten memacu para anggotanya, untuk terus berkarya dan mencari solusi terbaik mengentaskan kekurangan pasokan Rumah Rakyat bersubsidi (RSS FLPP),  yang saat ini back-log mencapai lebih dari 13,5 juta unit," kata Huda.

 

Meski nama Asprumnas berganti menjadi Perwiranusa, tapi nama Tri Sugiyanto tetap dipercaya sebagai Ketua dan Ir Misbahul Huda sebagai Sekretaris Perwiranusa DPW Provinsi Jawa Timur untuk masa bakti 2018-2023. Kesepakatan itu diambil pada saat sosialisasi dan silaturahmi yang dihadiri Ketua Umum DPP Perwiranusa Arief Suryo Handoko di Surabaya pada 26 Maret 2018 lalu. kbc7

Bagikan artikel ini: