Pertamina usulkan harga BBM Premium ikuti asumsi APBN

Rabu, 25 April 2018 | 20:06 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: PT Pertamina (Persero) mengusulkan  agar domestic market obligation atau DMO harga jual BBM jenis Premium disesuaikan dengan asumsi Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Hal itu jadi solusi untuk menjaga kinerja Pertamina di tengah penyaluran Premium penugasan dengan harga Rp 6.450 per liter.

Plt. Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan salah satu ia ajukan adalah harga minyak mentah dari porsi pemerintah yang akan digunakan untuk produksi Premium bisa mendapatkan harga DMO sesuai asumsi APBN.Pada 2018, asumsi harga minyak APBN senilai US$48 per barel, sedangkan harga ICP sudah sekitar US$60 per barel. Lalu, harga minyak Brent sudah berada di kisaran US$70 per barel.

Apalagi, pemerintah sudah menetapkan harga Premium penugasan tidak bakal naik sampai tahun depan. Ditambah, Premium penugasan bakal diperluas hingga seluruh indonesia. Sebelumnya ada beberapa wilayah yang tidak menjadi penugasan seperti, Jawa, Madura, dan Bali."Selama ini, kami membeli harga minyak dari porsi pemerintah itu dengan mengikuti harga pasar," ujarnya, Rabu (25/4/2018).

Adapun, porsi minyak dari pemerintah yang digunakan kilang Pertamina adalah sebesar 35% dari total keseluruhan.Nicke mengharapkan hal ini bisa mengurangi beban Pertamina terkait penyaluran Premium.Walaupun, bisnis hilir migas Pertamina tengah tertekan karena menyalurkan Premium sebagai BBM penugasan, perseroan mendapatkan untung di bisnis hulu seiring kenaikan harga minyak dunia.

Nicke pun mengakui kenaikan harga minyak bisa mendukung kinerja bisnis hulu menjadi lebih positif. Jadi, beban Premium memang bertambah karena harga minyak dunia naik, tetapi ada juga pendapatan lain dari hulu yang bisa menekan hal tersebut.

Dia juga memastikan perseroan akan berkomitmen menyalurkan Premium, Solar, dan LPG sesuai kuota yang telah ditentukan."Berbagai permasalahan terkait penyaluran Premium itu akan segera diperbaiki. Jika, ada kebutuhan kuota akan segera dibicarakan kepada pemerintah," ujarnya.

Sepanjang tiga tahun pertama tahun ini, perseroan mencatat penyaluran Premium penugasan sudah mencapai 90% dari kuota per bulannya. Dengan begitu, setiap bulan kuota Premium adalah 625.000 kilo liter.Jika, 90% kuota per bulan terpenuhi berarti setiap bulan, Premium yang tersalurkan sebesar 562.500 kilo liter.kbc11

Bagikan artikel ini: