Ekonom sebut suku bunga acuan BI saatnya dikerek, ini alasannya

Senin, 30 April 2018 | 07:23 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Wacana Bank Indonesia (BI) untuk mengerek suku bunga acuan jika pasar keuangan domestik terus tertekan mendapat dukungan sejumlah ekonom.

Bank sentral sudah mempertahankan BI 7-day repo rate di level 4,25% sejak September 2017 lalu. Suku bunga acuan rendah merupakan bentuk bantuan BI mendorong pertumbuhan ekonomi nasional lebih kencang karena bunga kredit rendah.

Sementara pada perdagangan hari terakhir pekan lalu, rupiah kembali menguar dan ada di posisi Rp 13.879 per dollar AS, sesuai data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) BI. Sehari sebelumnya, kurs rupiah di level Rp 13.930. Penguatan rupiah lantaran BI masih mengintervensi pasar.

Kepala Kajian Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), Febrio N. Kacaribu menyatakan, dalam kondisi nilai tukar rupiah tertekan, BI butuh kebijakan lain selain mengintervensi pasar. "Kenaikan tingkat suku bunga acuan perlu dilaksanakan," katanya, akhir pekan kemarin.

Kenaikan suku bunga acuan BI bisa mengurangi ketidakpastian karena pelaku pasar masih menebak-nebak arah kebijakan. "Kurs yang relatif bisa diprediksi sangat dibutuhkan oleh banyak perusahaan. Aktivitas ekspor, impor, pembayaran utang valuta asing, dan sebagainya akan terganggu," terang dia.

Ekonom Bank Permata, Josua Pardede juga berpendapat, BI perlu mengikuti tren kenaikan suku bunga. Soalnya, arah pengetatan kebijakan moneter sedang berlangsung di negara maju. Jika negara-negara berkembang tak mengikuti arus, akan mendorong modal keluar.

Sambil menunggu langkah kenaikan suku bunga acuan, Josua menyarankan, BI perlu meningkatkan kepercayaan pelaku pasar. Langkah stabilisasi di pasar valuta asing harus terus Bi lakukan, meski cadangan devisa terkikis.

BI juga harus memperkuat garis pertahanan pertama dalam manajemen modal. Caranya, terus memperkuat cadangan devisa, seperti rasio cadangan devisa/M2, cadangan devisa/impor, cadangan devisa/PDB, cadangan devisa/utang jangka pendek.

Lalu, BI perlu mengoptimalkan garis pertahanan kedua. Ini dengan memanfaatkan fasilitas bilateral swap agreement (BSA) dengan bank sentral Jepang. Juga fasilitas bilateral currency swap agreement (BCSA) dengan beberapa bank sentral di kawasan Asia. Contohnya, bank sentral Korea dan China. Selain itu, fasilitas Chiang Mai Initiative Multiteralization (CMIM).

Namun demikian, tidak semua pihak mengamini rencana penaikan suku bunga acuan BI. Kalangan pengusaha misalnya, tidak ingin ada kebijakan pengetatan kebijakan moneter. Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Perdagangan Benny Soetrisno mengatakan, dunia usaha tetap menginginkan suku bunga rendah. "Tidak rela (suku bunga acuan naik)," tegas Benny.

Kenaikan suku bunga acuan pasti akan direspon cepat oleh perbankan. Ujungnya, bunga kredit kembali naik.

Padahal, bunga kredit perbankan baru turun tipis, walaupun BI menahan suku bunga acuan 4,25% dalam jangka yang lama. Rata-rata bunga kredit modal kerja dari bank umum pada Februari 2018 lalu sebesar 10,69%, per tahun dari sebelumnya 11,26%.

Masalahnya, "Terkait dengan kekuatan ekonomi, apakah mampu (tidak menaikan suku bunga acuan)?" tanya Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Tutum Rahanta.

Pengusaha hanya berharap, jika suku bunga acuan BI naik, perbankan tidak buru-buru merespons dengan mengerek bunga kredit. Dalam kondisi masih penuh tekanan, pelaku bisnis meminta semua pihak ikut berkorban. "Suku bunga di bank jangan naik. Bank harus pintar-pintar efisiensi dengan mengurangi biaya operasi bank. Karena net interest margin bank di Indonesia cukup tinggi, bisa 5% sampai 6% yang seharusnya dengan 3% sampai 4% cukup, karena sudah otomatisasi (digital banking)," jelas Benny. kbc10

Bagikan artikel ini: