Rupiah sedang loyo, ini strategi BPKM menjaring investasi

Senin, 30 April 2018 | 19:30 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dolar Rate (JISDOR) dari laman Bank Indonesia menyebutkan, nilai tukar rupiah terhadap dolar pada 30 April 2018 tercatat Rp 13.877 per US$1. Namun, pada pekan lalu, rupiah hampir melewati batas psikologis Rp 14.000.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong mengakui terdepresiasinya kurs rupiah terhadap dolar berpotensi memberi dampak terhadap realisasi investasi yang akan masuk ke Indonesia. Asal tahu saja, BPKM menargetkan investasi tahun 2018 ini mencapai Rp 765 triliun.

Kendati perekonomian global masih rentan bergejolak, Thomas mengatakan pihaknya akan terus berupaya mempromosikan prospek investasi di Tanah Air. Menurutnya, setidaknya ada dua cara yang ditempuh BKPM untuk tetap menjaga agar target investasi tetap tercapai. Pertama, pihaknya pada tahun ini akan kembali fokus terhadap proyek-proyek yang besar (megaproyek) yang hasilnya besar.

"Penguatan US$ atau risiko lain, satu hal yang mungkin terpaksa saya lakukan adalah fokus kembali kepada megaproyek atau proyek yang besar. Karena sekali netas dapatnya banyak supaya benar-benar jadi," ujar Thomas di Jakarta, Senin (30/42018).

Adapun megaproyek yang dimaksud Lembong salah satunya adalah investasi di sektor smelter, khususnya smelter nikel. Sebab, dalam empat tahun terakhir penanaman modal asing (foreign direct investment/FDI) Indonesia diselamatkan salah satunya oleh investasi di sektor nikel.

"Nah, proyek smelter kebtulan banyaknya di Morowali, Sulawesi Tengah, dan Maluku. Itu megaproyek dan sudash menghasilkan lebih dari Rp 30 triliun dalam empat  tahun terakhir dan fase berikutnya bisa menghasilkan US$5-10 miliar. Ini penting untuk kita bisa menjaga kelangsungan investasi," imbuhnya.

Cara kedua, lanjut mantan menteri perdagangan ini, dalam jangka pendek pihaknya akan menggenjot investasi di Jawa. Sebab, cara itu yang paling gampang untuk memenuhi target investasi 2018 di tengah banyaknya risiko global.

Kendati begitu, sambung Thomas BKPM tetap tidak melupakan visi pembangunan ekonomi Indonesia dengan membangun dari pinggiran dan Indonesia sentris. "Tapi khusus untuk menjaga realisasi investasi di 2018-2019 mungkin terpaksa saya terpaksa agak fokus ke realisasi yang lokasinya di Jawa," tuturnya.

Adapun sektor yang akan digenjot untuk investasi di Pulau Jawa adalah e-commerce dan ekonomi digital. Sebab, sektor ini juga menjadi penyelamat FDI Indonesia selama empat tahun terakhir.

Menurutnya investasi e-commerce dan ekonomi digital seperti Gojek, Traveloka dan Bukalapak tetap akan tumbuh dan menjadi incaran para investor.Karenanya, BPKM akan menggenjot sektor ini.

"Jadi, guna menjaga investasi di tengah tantangan jangka pendek, saya harus genjot invesatsi di pulau Jawa, dan dua megaproyek tadi di smelter atau industri hulu seperti baja, petrokimia, smelter nikel, smelter aluminium, ini memang megaproyek di industri hulu. Dan e-commerce yang hampir semuanya masuknya lewat Jakarta. Karena semua dari Tokopedia sampai Grab, Gojek, Bukalapak ya basis operasionalnya di Jakarta," pungkasnya. kbc11

Bagikan artikel ini: