Lebih murah dan transparan, Astragraphia giring konsumennya beralih belanja via online

Jum'at, 04 Mei 2018 | 07:44 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Pergeseran budaya menuju digitalisasi layanan memicu PT Astragraphia Xprins Indonesia (AXI) berupaya memperkuat posisinya sebagai salah satu vendor pemerintah dalam penyediaaan barang secara online.

Melalui dua layanan online business-to-business (B2B) dan business –to-government (B2G) yakni AXIQoe.com dan PrintQoe.com, AXI ingin memberikan solusi tepat kepada  perusahaan dan pemerintah untuk menjalankan kegiatan pengadaan barang dan jasa secara transparan, akurat, efektif dan bersih serta murah.

“Kedua layanan online tersebut menjadi bagian dari komitmen AXI untuk menjawab tuntutan efisiensi dan efektifitas perusahaan dan pemerintah di era digital,” ujar Presiden Direktur PT Astragraphia Xprins Indonesia (AXI), Sahat Sihombing di Surabaya, Kamis (3/5/2018).

Layanan e-commerce AXIQoe.com, merupakan layanan belanja online adalah layanan untuk memenuhi perlengkapan dan  kebutuhan kantor seperti Office Supplies,Office Equipments dan Electronics, yang cakupannya telah membantu kebutuhan  bagi kota-kota di Jawa Timur, antara lain Malang, Madiun, Gresik, Sidoarjo, Banyuwangi hingga Madura.

Sedangkan layanan PrintQoe.com melayani kebutuhan print on demand dan variable printing secara real time sehingga memudahkan perusahaan dalam memesan berbagai jenis produk cetakan.

“Dari total konsumen offline Astragraphia yang mencapai sekitar 36 ribu konsumen, yang sudah beralih ke belanja online masih sekitar 3 ribu hingga 4 ribu konsumen. Dan Surabaya adalah kota terbesar,” tegas Sahat.

Data dari APJII mencatat bahwa penetrasi e-commerce di seluruh provinsi Jawa sebesar 58,08% di tahun 2017. Surabaya sendiri peringkat pertama kota di Indonesia sebagai kota dengan penetrasi e-commerce terbesar di Indonesia, yakni sebesar 71%.  

“Hal ini jelas menunjukkan bahwa pengguna internet di Surabaya, termasuk korporasi dan Lembaga pemerintahan telah menempatkan belanja online sebagai bagian dari strategi untuk mengelola kebutuhan barang perkantoran lebih bijak dan cerdas melalui pemanfaatan teknologi digital,” ujar Sahat.

Kepala Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP), Agus Prabowo mengatakan, ke depan mekanisme belanja pemerintah lewat e-purchasing akan terus meningkat dan sebaliknya, e-tendering akan semakin berkurang.

"Sebelumnya, primadona pengadaan adalah tender. Sekarang kami geser bahwa pengadaan yang baik adalah yang mengadopsi mekanisme pasar sepanjang itu terbuka dan adil melalui government e-marketplace," pungkas Agus Prabowo.kbc6

Bagikan artikel ini: