Saling mendukung, e-commerce dan tekfin diyakini kian gencar berkolaborasi

Senin, 07 Mei 2018 | 08:53 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Tren belanja online alias e-commerce diprediksi kian membawa perubahan terhadap model transaksi secara digital.

Kondisi itu memungkinkan perusahaan teknologi finansial (tekfin) pinjam meminjam dan pembayaran semakin banyak melakukan kolaborasi langsung dengan perusahaan penyedia lapak belanja daring.

Ketua Bidang Bisnis dan Ekonomi Asosiasi E-Commerce Indonesia (IdEA) Ignatius Untung mengatakan, teknologi finansial (tekfin) yang dapat tumbuh besar merupakan perusahaan rintisan yang bermitra dengan layanan e-commerce.

Keberadaan perusahaan teknologi finansial dapat semakin mempermudah berbagai proses transaksi keuangan di dalam ekosistem lapak belanja daring.

“Pada vertikal ini, memang standalone player tetap punya peluang menjadi besar, tapi fintech yang terbesar merupakan feature dari e-commerce player karena kuncinya adalah besarnya ekosistem. Bisnis fintech yang sustainable adalah yang punya basis pengguna dalam jumlah besar,” ujarnya di Jakarta, Minggu (6/5/2018 ).

Wakil Ketua Asosiasi Modal Ventura untuk Startup Indonesia Donald Wihardja memperkirakan perusahaan rintisan bervaluasi miliar dolar di dalam negeri berasal dari vertikal tekfin.

Meski empat unicorn yang sudah ada berasal dari vertikal e-commerce dan ride hailing, laju pertumbuhan transaksi tekfin mengalami pertumbuhan yang sangat pesat dalam setahun terakhir.

“Potensi yang paling besar memang dari fintech, baik itu lending maupun payment. Beberapa fintech teratas itu valuasinya sudah mencapai US$200 juta, artinya memang mereka potential unicorn jika berhasil segera fundraise lagi,” ujarnya.

Hanya saja, Donald berpendapat nantinya hanya tersisa dua tiga tekfin yang menguasai pasar domestik. Menurutnya, sudah menjadi karakteristik perusahaan teknologi besar di berbagai belahan dunia memonopoli vertikal bisnnya .

“Satu karakteristik tech startup itu memang the winner takes all, tapi saya mungkin nanti hanya ada dua tiga unicorn fintech payment dan lending yang kuasai 70% market share,” ujarnya.

Sepanjang tahun lalu industri tekfin P2P lending di dalam negeri menyalurkan pinjaman senilai Rp2,56 triliun. Penyaluran kredit itu naik 8 kali lipat dibanding 2016 senilai Rp284 miliar. Pada kuartal pertama tahun ini, pinjaman yang disalurkan mencapai Rp4,7 triliun.

Sementara, Bank Sentral mencatat sudah ada sebanyak 26 perusahaan tekfin pembayaran yang terdaftar sebagai penyelenggara tekfin pembayaran. kbc10

Bagikan artikel ini: