Rupiah diprediksi masih akan melemah dalam pekan ini

Senin, 07 Mei 2018 | 09:42 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kalangan ekonom memprediksi tren pelemahan rupiah masih akan berlangsung hingga pekan ini. Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS dalam sepekan ini ada pada level Rp 13.700 sampai Rp 13.800, dan sempat pada level Rp 13.965 per Kamis (3/5/2018), sekaligus merupakan yang tertinggi dan hampir menyentuh angka Rp 14.000.

"Pelemahan kurs rupiah prediksinya akan berlanjut hingga pekan depan seiring terus keluarnya dana asing di pasar saham Rp 3 triliun dalam seminggu ini," kata Bhima Yudhistira Adhinegara, ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Minggu (6/5/2018).

Bhima menambahkan, faktor lain yang turut mendorong tren pelemahan rupiah sepekan ke depan adalah permulaan kuartal II 2018 di mana terjadi pembagian dividen emiten yang turut mempengaruhi permintaan lebih tinggi terhadap dollar AS

Faktor eksternal seperti penguatan mata uang Amerika Serikat, kenaikan US treasury atau suku bunga obligasi negara di atas 3 persen, serta antisipasi pasar terhadap suku bunga acuan Fed Fund Rate turut jadi faktor pendorong tren pelemahan rupiah hingga akhir Mei 2018.

"Sampai akhir bulan Mei, diprediksi rupiah berkisar antara Rp 13.900 sampai Rp 14.000," tutur Bhima.

Meski menghadapi tantangan tren pelemahan rupiah pada kuartal II, pemerintah melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menyatakan sistem keuangan Indonesia per kuartal I 2018 berjalan stabil dan terkendali.

Indikator yang menunjukkan hal tersebut adalah tingkat inflasi di kisaran 3,5 persen, realisasi penerimaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dengan pertumbuhan 15,03 persen dan realisasi penerimaan Pajak Penghasilan (PPh) Non Migas yang tumbuh 20,12 persen tanpa tax amnesty. Defisit transaksi berjalan juga jadi salah satu indikator karena terjaga di bawah batas aman, 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Juga dalam hal ketahanan eksternal yang terlihat dari posisi cadangan devisa hingga akhir Maret 2018 sebesar 126 miliar dollar AS, setara dengan pembiayaan 7,9 bulan impor atau 7,7 bulan impor dan pembiayaan utang luar negeri pemerintah. Angka tersebut ada di atas standar kecukupan internasional sebesar 3 bulan impor. kbc10

Bagikan artikel ini: