165.228 Ekor sapi eks Australia isi kebutuhan Ramadan dan Lebaran 2018

Selasa, 08 Mei 2018 | 23:39 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat guna mengisi kebutuhan Ramadhan dan Lebaran 2018, neraca kebutuhan daging sapi sebesar 116.000 ton. Untuk memenuhi kebutuhan protein ruminansia di bulan Mei-Juni ini diantaranya dari  pasokan sapi hidup dari lokal sebesar 75.000 ekor.

Sementara, sebesar 31.491 ton atau setara 165.228 ekor berasal dari sapi bakalan (ex impor)  dari Australia. Sapi ini digemukan di kandang feedloter selama 90 hari ke depan .Artinya, sapi ini sudah didatangkan paling tidak sejak Februari lalu.  Jenis sapi bakalan ini terutama didistribusikan ke pasar Jabodetabek, Banten dan Jawa Barat.

Sebagai informasi saja pemasukan sapi bakalan untuk memenuhi kebutuhan Ramadhan dan Lebaran sebesar 157.000 ekor. Artinya, kontribusi dari sapi bakalan bertambah sebanyak 8.228 ekor. Untuk impor berbentuk daging sapi sebesar 12.531 ton dan kerbau 3.948 ton, dengan jumlah tesebut total kontribusi daging  impor mencapai 47.970 ton.

Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan I Ketut Diarminta mengatakan  terdapat  surplus daging sapi untuk memenuhi Ramadhan-Lebaran 2018 sebesar  7.034 ton. Itu pun dengan tidak memperhitungkan komponen impor jeroan sebagai dukungan pemenuhan protein hewan. ”Karena untuk masa Lebaran, jeroan impor tidak laku,” ujar Ketut kepada wartawan di Jakarta, Selasa (8/5/2018)

Kementerian Perdagangan, sambung Ketut juga baru baru ini memberikan izin impor daging kerbau kepada Perum Bulog sebesar 50.000 ton.Sementara, Kementan turut memberikan rekomendasi impor daging kerbau kepada PT Berdikari sebanyak 20.000 ton.

Ketut berharap masyarakat tidak perlu merisaukan kemungkinan kurangnya stok daging sapi. "Dari situ saya beranggapan untuk ketersediaan puasa dan Lebaran aman, saya menganggap sangat aman. Semua ini akan diawasi oleh Satgas Pangan yang akan mengontrol," kata Ketut.

Ketut menambahkan impor daging sapi ini sebagai alternatif pilihan kepada masyarakat untuk mengkonsumsi daging sapi dengan harga lebih murah. Apabila harga daging sapi segar dihargai Rp 120.000  per kilogram (kg), maka konsumen dapat membeli daging beku dikisaran Rp 90.000 per kg  dan daging kerbau sebesar Rp 80.000 per kg.

Kendati pasokan sapi lokal masih  mengisi 64 %  kebutuhan, namun Ketut jumlahnya akan meningkat seiring berjalannya program Upaya Khusus Sapi Betina Produktif Wajib Bunting (UPSUS SIWAB) sejak 2017. Program yang diharapkan ada loncatan populasi melalui inseminasi buatan dengan dibarengi pengawasan sapi betina produktif di Rumah Potong Hewan diharapkan akan ada pertambahan populasi sapi di akhir tahun sebanyak 1,3 juta ekor di akhir tahun.

“Perhitungannya, dengan acuan Badan Pusat Statistik bahwa setiap tahun ada 2,7 juta ekor sapi dipotong. Sementara menurut catatan kami , hingga Mei 2018 ada 5,5 juta ekor sapi di  IB. Dari jumlah itu 2,8 juta ekor sapi yang bunting dan terjadi kelahiran 1,2 juta ekor akan ada potensi kelahiran sebanyak 4 juta ekor. Dengan dikurangi pemotongan sapi sebanyak 2,7 juta ekor maka masih ada surplus populasi sapi sebanyak 1,3 juta ekor,” terang Ketut menjawab kabarbisnis.com.kbc11

Bagikan artikel ini: