Integrator diminta lakukan stabilisasi harga ayam dan telur

Jum'at, 11 Mei 2018 | 22:12 WIB ET
Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan I Ketut Diarmita dan Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Sugiono.
Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan I Ketut Diarmita dan Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Sugiono.

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kementerian Pertanian akan meminta perusahaan unggas terintegrasi melakukan stabilisasi harga daging ayam dan telur sehingga konsumen memperoleh akses harga yang terjangkau guna memenuhi kebutuhan bulan Ramadhan dan Idul Fitri tahun 2018.

“Jadi langkah–langkah yang paling penting menghadapi kenaikan titik kenaikan ..saya perintahkan integrator (perusahaan peternakan terintegrasi red) untuk menggerojoki disana (pasar red),” ujar Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian PertanianI Ketut Diarmita di Jakarta, Jumat (11/5/2018).

Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) mencatat harga rata-rata nasional satu kilogram (kg0 telur di tingkat konsumen meningkat dari Rp 24.400 pada 4 Mei 2018 jadi Rp 25.250 per 11 Mei 2018. Sedangkan, harga rata-rata satu kilogram daging ayam juga naik jadi Rp 35.700 pada 11 Mei 2018, dari sebelumnya Rp 35.000 pada 4 Mei 2018.

Sementara, Ditjen Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan menyebutkan harga ayam nasional tercatat sebesar Rp 33.139  kg.Untuk produk ayam berada di rentang harga Rp 24.179 kg.

Direktur Perbibitan dan Ternak Sugiono menjawab pesan WhatsApp kabarbisnis.com, Jumat malam, menerangkan Kementan akan mengirimkan surat edaran yang  meminta 15 perusahaaan ternak terintegrasi dan tiga asosiasi peternak ayam melakukan operasi pasar (OP) . Untuk harga daging ayam segar Rp 32.000 per ekor untuk berat 0,9 -1 kg.

Sementara harga daging ayam beku Rp 29.000 ekor dengan berat 0,7 -0,9 kg. Sementara harga telur ayam Rp 24.000 kg. Kegiatan OP ini untuk mengantisipasi gejolak harga ayam dan telur menjelang dan saat Hari besar Keagamaan Nasional

“Di titik mana ada harga tinggi, pelaku usaha siap untuk menggerojokkan telur dan daging ayam.Kita harus bersinergi demi kemajuan bangsa dan terus menjaga komitmen bersama dalam memajukan dunia perunggasan, sehingga swasembada daging ayam tetap terjaga dan ekspor pun terus meningkat,” kata dia.

Ketut kembali menjelaskan stabilisasi harga daging ayam dan telur cukup dilakukan di  pasar yang dinilai mengalami gejolak harga . Dengan begitu, operasi pasar ini tidak dilakukan disemua lokasi.”Paling beberapa titik nah ini integrator menggerojoki dimana tempat tempat yang mengalami kenaikan harga mereka siap melakukan operasi pasar,” kata Ketut.

Ketut mencium adanya oknum broker memanfaatkan momentum Ramadhan dan Lebaran untuk memicu harga ayam dan telur dipasar dengan motif m  eraup margin lebih besar .Akibatnya para peternak beramai ramai mengisi kandang , bahkan melebihi kapasitas normal.

Ketut juga berharap para perusahaan unggas terintegrasi mematuhi Permendag no 27 Tahun 2017 tentang harga acuan ayam sebesar Rp 18.000 kg  ditingkat peternak dan Rp 32.000 kg. Sementara harga telur ditetapkan Rp 18.000 kg dan telur Rp  22.000 kg

Dengan begitu harga ayam dan telur dapat diakses masyarakat dengan harga murah.Pasalnya ketersediaan ayam  dan telur melebihi permintaan. Hal itu merujuk neraca neraca daging ayam ras di bulan Mei-Juni 2018 mengalami surplus sebanyak 90.926 ton. Untuk ketersediaan daging ayam mencapai 626.085 ton. "Namun konsumsinya hanya 535.159 ton,” ujar Ketut

Adapun merujuk prognosa ketersediaan produksi daging ayam tahun 2018 adalah sebesar 3.565.495 ton. Sedangkan kebutuhan konsumsi sebesar 3.047.676 ton sehingga terjadi neraca surpus sebanyak 517.819 ton.

Demikian juga untuk ketersediaan telur ayam konsumsi untuk tahun 2018 terdapat produksi sebanyak 2.968.954 ton dengan jumlah kebutuhan konsumsi 2.766.760 ton, maka diperoleh kelebihan stok nasional sebanyak 202.195 ton.

Khusus untuk ketersediaan telur selama bulan puasa dan lebaran (Mei – Juni 2018) terdapat produksi sebesar 521.335 ton dan jumlah kebutuhan sebanyak 485.831 ton, sehingga ada kelebihan stok sebanyak 35.504 ton.

 “Kami mengharapkan kerjasama semua pihak agar terus menjaga kestabilan harga agar tercipta iklim usaha perunggasan yang sehat dan suasana tenang dalam memasuki bulan puasa dan lebaran ini,” terangnya.kbc11

Bagikan artikel ini: