Indonesia kekurangan 280 ribu orang insinyur

Sabtu, 12 Mei 2018 | 15:41 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Persatuan Insinyur Indonesia (PII) mengungkapkan, melimpahnya proyek infrastruktur, terutama sektor kelistrikan yang tengah dibangun di Indonesia berbanding terbalik dengan jumlah pasokan insinyur nasional.

Wakil Ketua PII Heru Dewanto mengatakan Indonesia berpotensi mengalami kekurangan sebanyak 280 ribu insinyur dalam lima tahun ke depan. Bahkan, berpeluang kekurangan 650 ribu insinyur dalam 10 tahun ke depan.

Menurut dia, minimnya pasokan tenaga kerja ahli merupakan persoalan yang dihadapi sektor kelistrikan, selain masalah regulasi.

"Ketika kesempatan di depan mata, kita masih berkutat pada masalah SDM (sumber daya manusia), khususnya jumlah insinyur. Saat ini, jumlah mahasiswa teknik hanya 14 persen dari jumlah seluruh mahasiswa di Indonesia," tuturnya, Rabu (9/5/2018).

Dari jumlah itu, 50 persen belajar teknik komputer, tapi dari jumlah tersebut, hanya separuh yang bekerja di sektor keinsinyuran.

"Artinya, lulusan teknik yang bekerja di bidang keinsinyuran hanya 3,5 persen," tambahnya.

Advokasi pada Batu bara Pemerintah dinilai telah mengambil kebijakan yang tepat dengan mengalokasikan bauran sumber energi untuk listrik di Indonesia.

Kebijakan bauran energi tersebut menempatkan batu bara sebagai sumber energi yang paling banyak digunakan sebesar 50 persen.

Heru mengingatkan pemerintah agar terus mengadvokasi kebijakan ini. Sebab, meski para pelaku industri telah melakukan inovasi teknologi untuk penggunaan batu bara yang lebih ramah lingkungan, kritik terhadap batu bara terus hadir.

"Ke depannya, kami berharap pemerintah untuk lebih mengadvokasi kebijakan bauran energi meski akan banyak tantangan dalam penerapannya. Saya yakin, bauran energi merupakan kebijakan yang tepat untuk diterapkan di Indonesia," kata Heru.

Pemerintah sebenarnya juga berupaya memaksimalkan penggunaan batubara di dalam negeri. Konsumsi batubara sepanjang tahun 2017 di Indonesia adalah sebesar 97 juta ton, masih di bawah target yaitu 121 juta ton.

Untuk itu, Heru mendukung upaya pemerintah agar para produsen batubara mengalokasikan 25 persen dari total produksi mereka untuk pasar domestik. kbc10

Bagikan artikel ini: