BI beri sinyal kerek suku bunga acuan

Selasa, 15 Mei 2018 | 17:48 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Bank Indonesia (BI) membuka peluang untuk menaikkan suku bunga BI 7 Day Repot Rate. Hal tersebut dilakukan untuk kembali menstabilkan nilai tukar Rupiah yang belakangan keok melawan Dolar Amerika Serikat (AS).

Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo mengatakan, meski ada indikasi menaikkan suku bunga, namun dirinya masih akan mengkaji dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada dua hari mendatang. Pasalnya, perlu pertimbangan-pertimbangan matang sebelum benar benar Bank Indonesia menaikkan suku bunganya.

"BI dua hari akan RDG. Kami akan kasih respon dan kami katakan terkait penyesuaian peningkatan suku bunga kami membuka peluang itu. Kami melihat peluang itu sangat dimungkinkan tapi tentu kita akan. Kami dalam rapat RDG," ujarnya saat ditemui di Jakarta, Selasa (15/5/2018).

Menurut Agus, pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dirasa normal. Karena menurutnya, mata uang dari berbagai negara di dunia pun dinilai mengalami hal yang sama.

Menurutnya, pelemahan nilai tukar mata uang Indonesia juga terpengaruh dari kondisi ekonomi global termasuk Indonesia. Apalagi menyusul kebijakan Amerika Serikat yang berencana menaikkan tarif impor pada baja yang memicu perang dagang.

"Di internasional ada cukup dinamika misalnya AS kelihatan dolar menguat dengan pernyataan dari Menteri Perdagangan AS yang akan melakukan peninjauan dari tarif impor dari pada baja," jelasnya.

"Kita tahu bahwa di Indonesia adalah satu negara yang kondisi ekonominya cukup mempunyai hubungan dengan kondisi global jadi kalau itu terjadi itu sifatnya dinamika yang kami anggap wajar. Tetapi jika ada depresiasi dari Rupiah tolong dilihat dari persentase jangan dilihat hanya dari nominal," imbuhnya.

Belum lagi lanjutnya, Eropa juga berencana mengeluarkan kebijakan untuk pengetatan pada mata uang Euro. Tentunya hal ini juga akan berpengaruh terhadap nilai tukar rupiah.

Agus Martowardojo Diperiksa Terkait Kasus Dugaan Korupsi Proyek e-KTP

"Eropa ICB juga memberikan pengumuman mungkin 2019 akan melakukan pengetatan dari euro. Kita jg mengikuti statement yang ada dan ini juga membuat kondisi AS berpengaruh ke negara berkembang termasuk Indonesia," jelasnya. kbc10

Bagikan artikel ini: