Omzet anjlok hingga 70% karena bom, ini yang dilakukan peritel di Surabaya

Rabu, 16 Mei 2018 | 20:37 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Teror.bom yang terjadi di Surabaya pada hari Minggu dan Senin telah mengakibatkan kerugian yang cukup besar. Selain kerugian moril, kerugian materi juga dirasakan masyarakat, utamanya para pengusaha ritel. Bom telah menyebabkan mereka kehilangan omzet puluhan miliar dalam waktu dua hari.

“Yang biasanya momen menjelang puasa menjadi awal kenaikan penjualan, dengan adanya bom justru turun drastis. Dampak memang sangat luar biasa. Dari data yang berhasil kami himpun, ritel yang formatnya menjadi satu dengan mall seperti Supermarket dan Hypermarket mengalami penurunan hingga 70 persen,” ujar Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Jawa Timur (Jatim) April Wahyu Widati kepada wartawan di Surabaya, Rabu (16/5/2018).

Bahkan dalam hitungannya, akibat teror bom bunuh diri tersebut, dalam dua hari peritel di seluruh Surabaya baik Hypermarket, Supermarket, Minimarket dan Departemen Store kehilangan omset sebesar Rp 33,9 miliar. Itu belum termasuk kerugian dari keengganan konsumen untuk melakukan pembelanjaan hingga hari ini.

Menurut penuturannya, pembeli di hari Selasa kemarin masih sepi, tetapi hari ini mulai bergerak naik. Tetapi yang perlu dijadikan catatan juga, sebenarnya momen-momen sekarang ini adalah waktunya peritel “panen”. Penjualan saat musim puasa dan lebaran berkontribusi sekitar 30 peraen dari total penjualan dalam satu tahin. Dan biasanya, mulai H-7 dari bulan Ramadhan, penjualan di gerai ritel sudah mulai naik karena masyarakat sudah mulai mempersiapkan diri memasuki bulan puasa.

Hal yang sama juga diutarakan oleh Koordinator Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Wilayah Indonesia Timur Abraham Ibnu bahwa teror bom telah berdampak negatif terhadap penjualan peritel dari semua format, baik yang menyatu dengan mall seperti Hypermarket, Supermarket dan Departmen store ataupun yang berdiri sendiri seperti Indomart dan Alfamart.

“Tidak seperti ritel yang menyatu dengan mall yang mengalami penurunan sebesar 70 persen, penurunan ritel yang berdiri sendiri seperti minimarket Alfamary dan Indomart lebih kecil, mencapai sekitar 30 persen. Kalau kelas minimarket yang menjual bahan pangan saja turun, apalagi Departemen store seperti Mahatahi yang menjual produk sandang,” ujar Ibnu.

Untuk itulah, baik Ibnu maupun April menganggap perlu untuk melakukan recovery terhadap psikologi masyarakat agar kekhawatiran mereka untuk pergi ke pusat keramaian dan pusat perbelanjaan hilang sehingga masyarakat kembali berbelanja untuk memenuhi kebutuhan mereka, baik kebutuhan pangan maupun sandang menjelang lebaran kali ini.

Langkah recovery tersebut salah satunya dengan memasang spanduk bertuliskan seruan atau imbauan agar tidak takut berbelanja. Selain itu mereka juga sedang menggodog beberapa agenda atau upaya untuk menaikkan penjualan. Misalnya dengan memberikan diskon atau voucer yang lebih menarik dibanding biasanya.

“Tragedi ini memang sangat berdampak kepada kami. Jika biasanya pada saat jam 14.00 WIB pengunjung mall bisa mencapai 2 ribu pengunjung, maka kemarin jumlah pengunjung saat makan siang 500 saja tidak sampai. Bisa dibayangkan bagaimana kondisi toko kami saat itu. Untuk itulah kami menganggap perlu untuk memberikan promo yang lebih menarik, misalnya voucer yang bisa dibelanjakan tanpa syarat. Dan ini masih kami bahas promo apalagi yang akan kami berikan kepada pengunjung,” pungkas Regional Manager Matahari Departemen Store Hendri lismono.kbc6

Bagikan artikel ini: