Kementan Gelar Pangan Murah di 100 titik

Rabu, 16 Mei 2018 | 20:43 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Guna memudahkan masyarakat membeli pangan murah berkualitas, pemerintah membuat Gelar Pangan Murah (GPM) di 100 titik yang tersebar di lima wilayah DKI Jakarta, Depok, Bogor, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek).

Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian Agung Hendriadi berharap dengan GPM harga produk pangan strategis menjadi stabil. Selain GPM, pihaknya juga hingga kini telah membuka 235 Toko Tani Indonesia (TTI) di Jabodetabek. Dari jumlah itu 11 diantaranya berada di lokasi pasar yang dikelola PD Pasar jaya.

“Toko Tani di beberapa perumahan dan ruko, juga bekerjasama dengan PD Pasar Jaya. Kita diberikan lapak gratis. Kita ada 43 lapak yang diisi. Barang-barang yang dijual langsung dari Gapoktan. Sedangkan yang impor langsung dari importirnya. Potong rantai distribusi sehingga harga lebih murah,” ujar Agung dalam kunjungan ke beberapa pasar yakni, Pasar Induk Beras Cipinang, Pasar Klender dan TTI Centre di Jakarta, Rabu (15/5/2018),

Dengan beberapa langkah strategis itu, Agung berharap dapat mengendalikan harga pangan. Apalagi kegiatan tersebut dengan membangun jaringan pelaku distribusi dari wilayah sentra dan DKI Jakarta. "Kami juga telah melakukan  kerjasama antara PD Pasar Jaya dengan beberapa asosiasi pengusaha daging sapi/kerbau beku," katanya.

Menurut Agung pihaknya juga melakukan monitoring pasokan dan harga pangan serta dukungan informasi dan database pasokan dan harga. TTI bekerjasama dengan Gapoktan menggunakan E-commerce. Sehingga transaksinya lebih cepat. Ia menegaskan, jangankan Ramadhan, bahkan hingga akhir tahun stok aman.

Selain itu juga optimalisasi satgas pangan dalam melakukan pengamanan stabilitas harga pangan, juga apel siaga TTI dan Pengembangan Usaha Pangan Masyarakat (PUPM) di beberapa provinsiDengan upaya-upaya tersebut, Ia berharap masyarakat bisa lebih tenang dan nyaman mendapatkan kebutuhan pangannya.

Berdasarkan prognosa, ketersediaan produksi pangan strategis pada periode Mei-Juni 2018 tercatat, beras sebanyak 8,15 juta ton, jagung (4,5 juta ton), kedelai (212 ribu ton), bawang merah (252 ribu ton), cabai besar (224 ribu ton), cabai rawit ( 178 ribu ton), daging sapi (75,4 ribu ton), daging ayam (626 Ribu ton), telur ayam (204 ribu ton), minyak goreng (4,6 juta ton) dan gula pasir (529 ribu ton).

“Tahun lalu kita bisa mengendalikan harga dengan baik, tahun ini bisa lebih baik. Karena tadi bersama Wakil Gubernur Jakarta sudah sama-sama melihat stok beras sudah melebihi stok normal. Begitu juga bawang dan cabai. Kita sudah antisipasi luas tanam Kita tiga bulan yang lalu Kita naikkan 30%. Artinya terkait produksi menghadapi kebutuhan yang meningkat di masyarakat akan terpenuhi dengan baik,” paparnya.

Mengenai produksi beras, Agung menjelaskan dalam dua bulan ini (Mei-Juni) akan produksi 8,2 juta ton nasional. Kebutuhan konsumsi beras nasional 5,3 juta ton. Produksi bawang merah 252 ribu ton, kebutuhan 210 ribu ton. Produksi cabai rawit 178 ribu ton, kebutuhan 113 ribu ton.

Khusus kedelai dan daging sapi, dari produksi yang dihasilkan dalam negeri memang mengalami kekurangan untuk mencukupi kebutuhan pada periode tersebut. Tercatat kedelai mengalami defisit sebanyak 297 ribu ton dan daging sapi mengalami defisit sebanyak 41 ribu ton.

Namun, kekurangan dari produksi daging sapi/kerbau dalam negeri tersebut ditutupi dari luar negeri baik sapi bakalan yang siap dipotong bulan mei-juni serta impor daging sapi/kerbau untuk memenuhi bulan juni sekitar 48.206 ton sehingga terdapat surplus sekitar 7 ribu ton.

Sementara itu CEO PT Suri Nusantara Jaya, Diana Dewi mengatakan pembelian daging dan ayam menjelang bulan Ramadhan meningkat 50%. Harga daging sapi beku Rp 60 ribu – 80 ribu/kg, sedangkan yang segar Rp 95 ribu/kg, ayam 32 ribu/kg, telur 24 ribu/kg. "Harga tersebut  sudah mengikuti Harga Acuan Pemerintah,” katanya.

Menurutnya, daging segar dipasok dari Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat, sedangkan yang ekspor dari India, Australia, Selandia Baru. Harga yang relatif terjangkau diakuinya karena mata rantai distribusi yang dipotong. “Kami bermitra dengan peternak," katanya.

Kondisi ketersediaan pangan diatas diperkuat juga dengan stok beberapa pangan di Perum Bulog yang sampai dengan 15 Mei 2018 mencapai beras (1,24 juta ton), jagung (203 ton), daging kerbau (4.161 ton), gula pasir (187.881 ton), dan minyak goreng (5,54 juta liter). kbc11

Bagikan artikel ini: