AirAsia incar angkut 90 juta penumpang pada 2018

Kamis, 17 Mei 2018 | 21:24 WIB ET

BANGKOK, kabarbisnis.com: Maskapai AirAsia Grup mematok target perolehan 90 juta penumpang selama 2018. Khusus untuk AirAsia Indonesia, manajemen menargetkan dapat menggaet lebih dari 6 juta penumpang.

"Tahun ini kami menargetkan secara grup 90 juta penumpang, Indonesia target sekitar enam juta," kata CEO AirAsia Indonesia Dendy Kurniawandi sela acara #HalfBillionGuestFlown di Bangkok, Thailand, beberapa waktu lalu.

Target perolehan penumpang pada tahun ini justru tak lebih besar dari jumlah penumpang tahun lalu. Sepanjang 2017, AirAsia mengangkut 6,7 juta penumpang penumpang rute domestik dan internasional.

Dendy optimistis AirAsia Indonesia dapat meraih target tersebut meskipun banyak tantangan yang harus dihadapi.

"Kuartal satu tahun ini orang berhati-hari dalam spending (pengeluaran). Banyak diskusi di media tentang menteri keuangan yang menyampaikan utang negara yang managable (terkelola baik), ada concern orang, tentang bagaimana ekonomi Indonesia," kata dia.

Lebih lanjut, Dendy meyakini perusahaan dapat bersaing dengan maskapai lain, terutama soal inovasi. Dia mengklaim hal itu sudah dibuktikan dengan mengawali bisnis dengan menjadi maskapai LCC (Low Cost Carrier/Maskapai bertarif murah) Asia pertama yang mendapatkan approval dari FAA untuk terbang ke Amerika.

Soal perang harga dengan maskapai lain, Dendy tak mempersoalkannya. "Itu (Perang harga) sudah kompetisi, biarkan saja, bisnis tidak boleh disuapin, biarkan berkompetisi yang penting sehat. Kuenya masih besar. Sejauh ini masih sehat," katanya.

Namun, menurut Dendy, ada tantangan lain yang dihadapi maskapai, di antaranya kondisi politik dan keamanan Indonesia. "Belum lagi, kita menghadapi masa pemilu 2019," katanya.

Selain itu kejadian-kejadian tak terduga seperti teror bom di Surabaya, kata Dendy, tentunya akan mempengaruhi jumlah penumpang.

"Kita bicara turis, orang yang datang belum familiar dengan kondisi di situ (Surabaya). Dengar ada kejadian di sana mereka khawatir. tak usah orang Malaysia, kita orang Jakarta suruh ke Surabaya pasti mikir dulu, jangan dulu deh kondisinya belum kondusif," kata Dendy.

Tentunya, kata Dendy, hal itu akan berpengaruh. Tapi, dia meyakini hal itu tidak akan berpengaruh signifikan bila pemerintah bisa meredam dan menangani isu-isu tersebut.

"Kalau mau objektif, di Eropa kejadian tersebut sering terjadi. Tapi, jumlah kunjungan turis ke London, di Paris, masih tinggi. Ini hanya soal bagaimana pemerintah mengelola isu. kredibilitas pemerintah diuji di situ," katanya. kbc10

Bagikan artikel ini: