Baru 23,4 persen anak muda RI pahami literasi keuangan

Selasa, 22 Mei 2018 | 09:09 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pemahaman mengenai keuangan atau literasi keuangan di kalangan generasi muda di Indonesia masih minim. Demikian hasil survei nasional tiga tahunan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Menurut anggota Dewan Komisioner OJK Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen, Tirta Segara, berdasar hasil survei nasional tiga tahunan OJK mengenai literasi dan inklusi keuangan pada 2017, tercatat masih sebagian kecil anak muda yang sudah memiliki pemahaman terkait keuangan.

"Hanya 64,2 persen pelajar atau mahasiswa yang menggunakan produk dan layanan keuangan, namun hanya 23,4 persen pelajar dan mahasiswa yang telah memiliki pengetahuan, keterampilan, atau keyakinan bahkan sikap maupun perilaku keuangan," kata Tirta di Menara Radius Prawiro, Kompleks BI, Senin (21/5/2018).

Tirta menjelaskan, anak muda saat ini berisiko terkena masalah keuangan sebab kurang dibekali dengan literasi keuangan.

"Ini ada sebuah risiko karena mereka punya akses, tetapi tidak paham apa yang diakses, tidak paham apa yang dibeli dari jasa-jasa keuangan," ujarnya.

Lebih jauh dia menjelaskan, anak muda yang berstatus sebagai pelajar dan mahasiswa saat ini cenderung sudah mempunyai akses terhadap produk-produk keuangan yang ditawarkan, namun masih sedikit pemahaman yang mereka miliki.

"Saat ini produk keuangan bahkan sudah ditawarkan kepada anak-anak muda. Jadi pada masanya mereka sudah mulai bisa membuat keputusan, ini perlu sudah dibekali dengan pengetahuan yang baik," tandasnya.

Untuk itu, guna mendorong literasi keuangan di sejak dini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meluncurkan modul e-Learning atau buku digital mengenai literasi keuangan. Modul ini ditujukan bagi siswa SD dan SMP. Tirta Segara menjelaskan, modul e- learning adalah terobosan teknologi untuk menciptakan literasi keuangan sejak dini.

"Ini adalah sebagai salah satu upaya peningkatan literasi keuangan pelajar dan juga untuk mempersiapkan generasi terbaik," kata Tirta.

Dia mengatakan, dengan adanya modul e-learning tersebut diharapkan dapat lebih mendekatkan produk keuangan dan jasa keuangan kepada anak-anak. "Kita juga untuk mengajarkan pentingnya melakukan pengelolaan keuangan kepada anak-anak kita," ujarnya.

Tirta menjelaskan, pendidikan mengenai literasi keuangan perlu dilakukan sejak dini. Akan tetapi, anak-anak jaman sekarang kurang tertarik untuk belajar jika medianya tidak menarik.

"Untuk menarik anak-anak yang masih sangat muda untuk mau belajar soal literasi keuangan, soal keuangan kita harus menyediakan pada mereka buku yang menarik." kata Tirta.

Dia melanjutkan, pelajar merupakan generasi penerus yang akan membangun Indonesia di masa yang akan datang sehingga mereka perlu dipersiapkan dengan pengetahuan mengenai keuangan untuk membangun Indonesia yang lebih baik. kbc10

Bagikan artikel ini: