Genjot okupansi, Garuda tambah porsi tarif murah

Rabu, 30 Mei 2018 | 08:44 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Maskapai nasional PT Garuda Indonesia (Persero) optimistis mampu meningkatkan utilitas dan keterisian kursi pesawat untuk jenis ATR 72-600 dan CRJ1000 NextGen melalui program Eco Basic.

Direktur Niaga Domestik Garuda Indonesia Nina Sulistyowati mengatakan tujuan utama program tambahan untuk kelas ekonomi tersebut adalah untuk meningkatkan utilitas pesawat dan tingkat keterisian kursi (seat load factor/SLF). Terdapat 22 rute pulang pergi yang memiliki jenis promo Eco Basic menggunakan pesawat jenis ATR 72-600 dan CRJ1000 NextGen.

"Benefit bagi perusahaan adalah mendapatkan pasar baru, mengisi kapasitas seat, dan meningkatkan utilitas pesawat," kata Nina, Selasa (29/5/2018).

Dia menyebutkan, SLF untuk rute yang masuk dalam Eco Basic masih menyisakan ruang rata-rata sebanyak 20%. Padahal, biaya operasional yang dikeluarkan untuk setiap penerbangan dengan seluruh kursi penuh atau tidak, akan sama.

Pihaknya akan mengkaji layanan Eco Basic dalam dua hingga empat pekan kedepan untuk mengetahui dampak positif dari program baru tersebut. Program ini diluncurkan pertama kali di Ujung Pandang pada 21 Mei 2018 dan akan disosialisasikan kembali di Medan pada 30 Mei 2018.

Jumlah tiket Eco Basic yang dijual hanya sebanyak 12 seat untuk setiap rute penerbangan. Kendati demikian, tarif yang dijual tetap pada koridor maskapai layanan penuh (full service airline/FSA) dan tidak menyalahi peraturan tarif batas bawah (TBB).

Nina menyebut ada beberapa layanan yang dikurangi dalam jenis promo ini, diantaranya tidak ada fasilitas kapasitas bagasi tambahan untuk membawa peralatan olahraga. Berat peralatan olahraga yang dibawa akan memotong kapasitas bagasi tercatat yang didapat.

Selain itu, penumpang hanya bisa melakukan check-in melalui check-in counter di bandara, tidak bisa melalui web, mobile, city, kiosk, atau phone check-in. Penumpang juga tidak bisa memilih kursi yang diinginkan sebelum atau saat check-in.

Pihaknya mengaku telah mengatur ketentuan, harga, dan rute secara sedemikian rupa agar tidak bertabrakan dengan pangsa pasar anak usahanya, Citilink Indonesia. Maskapai yang memiliki warna dominan hijau tersebut menawarkan harga yang lebih murah dengan layanan berjenis minimum (no frills).

Sebelumnya, Direktur Utama Garuda Indonesia Pahala N. Mansury menyebut utilitas pesawat ATR dan CRJ baru mencapai sekitar 5 jam. Adapun, untuk seluruh pesawat berlorong tunggal (narrow body) yang dimiliki, utilitas tahun lalu mencapai 9 jam 11 menit.

"Rute ini terbang sejak 28 Mei. Bisa menaikkan SLF sekitar 5%--10%," kata Pahala, Senin (28/5/2018). kbc10

Bagikan artikel ini: