BI rate naik, Intiland optimis industri properti tetap menggeliat

Kamis, 31 Mei 2018 | 18:58 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Bank Indonesia (BI) sudah menaikkan suku bunga acuan sebanyak 50 basis poin (bps) dalam kurun waktu dua pekan saja menjadi 4,75%. Lazimnya, langkah otoritas moneter ini akan diikuti bank pelaksana dengan menaikkan bunga kreditnya. Lalu apakah hal ini akan berdampak terhadap kinerja industri properti di Tanah Air?

Data Real Estate Indonesia (REI) menyebutkan sebanyak 86% konsumen segmen  menengah atas membeli properti dengan menggunakan fasilitas kredit pemilikan rumah atau apartemen (KPR/KPA). Sementara masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) mendapat subsidi pemerintah.

Corporate Secretary PT Intiland Development Tbk Theresia Rustandy  menuturkan masih terlampau dini menilai kebijakan bank sentral menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin akan langsung berdampak terhadap suku bunga kredit dan suku bunga konstruksi. Kekhawatiran akan menyurutkan daya beli masyarakat membeli properti juga tidak tepat.

Intiland, kata Theresia tetap berupaya mengejar target marketing sales sebesar Rp 3,37 triliun tahun 2018.Menurut dia Intiland telah melakukan kontrak kepada sejumlah vendor dan kontraktor untuk menuntaskan sejumlah proyek prestisius yang tengah berjalan seperti Fifty Seven Promenade di Jakarta Pusat dan Praxis serta Graha Spazio Tower di Surabaya.

Intiland, sebut Theresia setidaknya dibutuhkan tiga-enam bulan ke depan apakah langkah bank sentral ini akan mempengaruhi harga jual unit properti.Menurut Theresia  kenaikan BI 7 Days Reserve Repo Rate ini guna menstabilkan kurs rupiah dapat dipahami . Langkah otoritas monoter menaikkan suku bunga acuan untuk menjaga stabilitas makro perekonomian tanpa harus mengorbankan sektor riil.

Sektor properti, bagaimanapun memainkan peran penting terhadap perekonomian nasional.“Its oke. Tapi saya berharap pihak perbankan dapat lebih arif mengimplementasikan kebijakan bank sentral,” ujar Theresia kapada kabarbisnis.com di Jakarta, kemarin.

Menurut Theresia industri properti nasional masih sangat membutuhkan dukungan perbankan . Bagaimanapun industri properti nasional belum benar-benar pulih.  Theresia melihat konsumen tidak begitu memperdulikan keputusan BI penetapan suku bunga acuan.“Namun, konsumen akan mampu membayarnya dengan suku bunga kredit yang ditetapkan bank pelaksana.Kita belum tau implementasi ke kredit properti misalnya ke KPA akan naik berapa persen,” kata dia.

Theresia pun berpendapat idealnya setiap kenaikan BI Rate terhadap suku bunga kredit tidak melebihi dua basis point. Dengan suku bunga acuan di posisi 4,75% maka suku bunga kredit yang dapat diterima industri properti  sebesar 6%.

Meski begitu, Theresia pun optimis BI dibawah nahkoda baru Perry Warjiyo akan menelurkan kebijakan moneter yang berpihak terhadap sektor riil. Andaipun BI Rate dinaikkan, tentunya BI diharapkan akan merilis fleksibelitas pembiayaan perbankan.

“Kalau suku bunga harus naik mungkin akan ada kelonggaran ditempat lain yang dapat membantu industri properti bergariah.Kabarnya Loan To Value juga akan diperlunak. Ini sangat berguna untuk pembiayaan Kredit Pemilikan Rumah yang bersifat indent,” terangnya.   

Namun pada  sisi lain, sambung Theresia semua pengembang juga akan menawarkan opsi pembiayaan yang tidak memberatkan kepada konsumen.Pasalnya, core bisnis perbankan bukan pada pembiayaan, namun ketika bank pelaksana tidak dapat mengakomodir kebutuhan konsumen maka bukan tidak mungkin pengembang merangkap fungsi perbankan semata mata konsumen dapat membiayai pembelian rumahnya.kbc11

Bagikan artikel ini: