Peran Bulog terkurangi, DPR RI: Ini tantangan bagi Bulog untuk sediakan beras lebih bagus

Jum'at, 01 Juni 2018 | 09:46 WIB ET

SIDOARJO, kabarbisnis.com: Kewajiban Bulog untuk menyalurkan beras kepada masyarakat pra sejahtera dalam program beras untuk masyarakar pra sejahtera (Rastra) terus terkurangi paska diberlakukannya program Bantuan Pangan Non Tunai (BPTN) bagi keluarga penerima manfaat (KPM).’

Jika sebelumnya dalam setiap bulan Bulog harus menggelontorkan beras sekitar 42 ribu ton untuk program Rastra masyarakat Jatim, maka sekarang hanya tinggal 19 ribu ton per bulan. Bahkan sampai akhir tahun nanti, diperkirakan beras yang harus didistribusikan Bulog untuk program Rastra tinggal 200 ribu ton per tahun.

“Kalau dulu melalui program Rastra Bulog harus sepenuhnya menyediakan seluruh beras yang dibutuhkan, maka dengan bergantinya bantuan menjadi BPNT, swasta juga bisa menyuplai melalui kios-kios tersebut. Artinya  peran Bulog sekarang sudah terkurangi. Nah ini seperti kata teman-teman tadi, ini adalah tantangan buat Bulog,” ujar Anggota DPR RI Oo Sutisna saat meninjau tersediaan beras di gudang Bulog Divre Jatim yang berlokasi di Buduran Sidoarjo, Kamis (31/5/2018).

Menurut politisi dari partai Gerindra ini, sekaranglah waktunya bagi Bulog untuk menunjukkan bahwa Bulog bisa bersaing dengan swasta untuk menyediakan beras lebih baik. “Jangan takut kalah, Bulog pasti bisa. Ini adalah rantangan bagi Bulog untuk bisa menyediakan beras yang lebih bagus. Kalau swasta bisa, masa Bulog tidak,” tekannya.

Menanggapi persoalan tersebut, Kepala Perum Bulog Divre Jatim, Muhammad Hasyim menyatakan bahwa kondisi ini telah membuat Bulog melakukan berbagai antisipasi.

Dijelaskannya, sebagai lembaga yang ditugasi untuk melakulan stabilisasi pangan, maka Bulog harus melakukan penyerapan yang cukup besar, utamanya disaat panen raya. Dan pada tahun ini, taget penyerapan gabah beras untuk wilayah Jatim mencapai 697 ribu ton per tahu. Hal ini dilakukan agar harga beras di tingkat petani tidak anjlok terlalu rendah.

Nantinya, beras itu akan dilepas di pasar disaat pasokan mulai menipis diantaranya melalui operasi pasar. Beras tersebut juga digunakan untuk menyuplai kebutuhan beras dalam program Rastra. Hanya saja karena pada tahun ini beras yang dibutuhkan dalam program Rastra terus menyusut, maka Bulog melakukan antisipasi dengan memperbesar jumlah beras yang dikirim ke luar daerah.

“Beras tersebut akan kami kirim ke berbagai daerah yang membutuhkan di seluruh Indonesia, diantarnya ke Papua, Kalimantan Timur bahkan ke Sumatra. Ini akan kami perbanyak karena beras kalau disimpan terlalu lama juga tidak akan baik,” tegas Hasyim.

Selain itu, melalui kerjasama dengan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Bulog juga telah mulai menjualnya berbagai produknya, termasuk beras di berbagai ritel modern dengan brand “Beras Kita”. “Jumlah Rumah Pangan Kita juga terua kita perbanyak. Tahun ini kami targekan jumlahnya bisa mencapai 25 ribu RPK dari saat ini yang masih sekitar 5200 RPK,” tambahnya.

Sementara untuk menjaga kualitas beras yang disimpan, maka perawatan dilakukan secara berkala. Menurut penuturan Hasyim, idealnya waktu penyimpanan beras memang tidak lebih dari tiga bulan, karena jika lebih dari tiga bulan beras akan mengalami perubahan. Untuk itulah Bulog secara kontinyu melakukan fumigasi terhadap beras yang ada di gudang.

“Perawatan kami lakukan secara berkala. Ada perawatan harian, bulanan dan tiga bulanan. Tiap bulan ada fumigasi, tiga bulan ada fumigasi. Intinya beras ini rutin dirawat. Juga ada lorong udara. Karena idealnya beras itu bagus jika umurnya tiga bulan, kalau lebih ada perubahan. Sementara beras di Bulog kalau dibutuhkan baru dikeluarkan,” pungkas Hasyim.kbc6

Bagikan artikel ini: