Terindikasi mafia pangan, Kementan blacklist 5 importir bawang putih

Jum'at, 01 Juni 2018 | 15:19 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kementerian Pertanian (Kementan) mencoret lima importir bawang putih sehingga dimasukan dalam daftar hitam (blacklist). Kelima importir tersebut adalah PT PTI, PT TSR, PT CGM, PT FMT, PT ASJ.

Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman mengatakan blacklist diberlakukan kepada kelima importir tersebut karena bermasalah dengan hukum.  Sejumlah perusahaan ini juga menjalankan proses importasi yang tidak sesuai peruntukan .

Indikasi permainan diduga juga terjadi pada pelaksanaan wajib tanam.Ini terkonfirmasi dari laporan staf Kementan yang berada dilapangan, disuap agar lolos tidak melakukan wajib tanam. Uang gratifikasi dari importir yang disogok ke staf Kementan, langsung disetor dan dilaporkan ke KPK.

Menurut Amran penyidik kepolisian sudah menetapkan pemilik perusahaan importir bawang putih itu sebagai tersangka.”Perusahaan dan kroninya kami tutup, tidak boleh bisnis sektor pangan,” ujar Amran usai melakukan apel Hari Lahir Pancasila di Jakarta, Jumat (31/5/2018).

Amran menilai banyak ditemukan anomali dalam tata niaga bawang putih. Padahal, Kementan sudah membuka Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH) bawang putih tahun 2018 ini sebesar 500.000 ton sejak Januari-Febuari lalu. Volume impor bawang putih sebesar diperuntukkan kebutuhan sepanjang 2018.

 

Namun, Mentan melihat harga bawang putih yang terus berfluktuasi.Kementan mencium sejumlah pihak ini mempermainkan harga sehingga merugikan konsumen dan petani. Aroma busuk mafia sudah terciuam sejak awal. Hal ini terlihat dari tingginya marjin pelaku usaha.

“Harga bawang putih di China Rp 5.600 per kilogram (kg). Harga bersih masuk ke Indonesia berkisar Rp 8.000-Rp 10.000 per kg. Pedagang sudah untung jika menjual Rp 15.000 per kg. Semestinya harga bawang putih tidak boleh melebihi Rp 20.000 per kg,” tukasnya.

Namun dalam praktiknya konsumen membeli bawang putih dengan harga jauh lebih mahal.Bahkan di pasaran, harga bawang putih pernah mencapai Rp 45.000-Rp 50.000 per kg. “Ini kan setahun mereka bisa menangguk untung Rp 19 triliun. Keuntungan ini sangat fantastik dinikmati segelintir orang dan menyengsarakan jutaan rakyat,” tandasnya.

Saat ini harga bawang putih bergerak variasi berbeda antara satu provinsi dengan provinsi lainnya. Merujuk Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) menyebutkan , harga bawang putih di Jakarta mencapai Rp 36.250 per kg. Sementara di Jawa Tengah dan Jawa Barat  masing-masing Rp 23.700 dan Rp 27.100 per kg. Adapun harga tertinggi berada di dua provinsi yakni Papua Barat dan Maluku Utara yakni mencapai Rp 45.000 per kg dan Rp 50.000 per kg.

Atas hal ini Amran mengatakan pemerintah akan memperbaik tata kelola pangan dengan kebijakan baru. Nantinya perusahaan yang masuk daftar hitam digantikan dan dipersilakan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Sumatera Barat, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB  dan Sulsel, serta BUMN maupun perusahaan lokal masuk ke bisnis bawang putih.

“Nantinya jika di pasar terjadi gejolak harga, mereka akan menstabilkan harga dengan operasi pasar. Merekapun wajib tanam bermitra dengan petani. Pola kemitraan petani diyakini menguntungkan kedua belah pihak,” kata Amran.

Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Ditjen Hortikultura Prihasto Setyanto mengatakan kelima perusahaan  ini memegang RIPH sekitar  20-30%  dari total rekomendasi impor sebesar 500.000 ton. Modus penyimpangan dilakukan perusahaan tersebut membeli lisensi impor yang sebelumnya dimiliki importir bawang putih lainnya.”Jadi  semacam meminjam bendera saja (kuota impor red),” kata Prihasto kepada kabarbisnis.com

Prihasto menyebutkan PT TSR misalnya yang diduga menyalahi izin penggunaan impor bibit bawang putih. Semestinya, bibit bawang putih diperuntukan untuk ditanam di Malang, Jawa Timur. Namun, Kementerian Perdagangan menemukan justru bibit digunakan untuk keperluan konsumsi di Sumatera Utara. “Itu menyalahi aturan. Kalau kasus ini, silahkan check ke Satgas Pangan,” pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: