Kapasitas sentuh 100%, Suparma siap tambah mesin produksi kertas

Selasa, 05 Juni 2018 | 15:00 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Produsen kertas PT Suparma Tbk (SPMA) menyatakan kapasitas produksi pada tahun ini telah menyentuh angka 100 persen. Untuk itu, perseroan berencana melakukan investasi pembelian mesin baru untuk menambah kapasitas produksi.

Direktur Suparma Hendro Luhur mengatakan, pada 2017 lalu kapasitas produksi mesin perseroan sudah mencapai 88 persen dan pihaknya bisa dikatakan terlambat mengantisipasi permintaan produk yang meningkat pesat. Peningkatan ini dirasakan terhadap produk jenis carrier tissue yang notabene untuk bahan produksi popok bayi dan pembalut.

“Dengan kapasitas produksi yang menyentuh angka 100 persen, mau tak mau kami harus menambah kapasitas dengan investasi mesin baru. Namun saat ini perseroan masih menggodok, jenis mesin dan produknya serta nilai investasinya," katanya usai Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) perseroan di Surabaya, Senin (4/6/2018).

Hendro menargetkan, pada akhir tahun ini pihaknya sudah memiliki rencana matang terkait penambahan kapasitas produksi tersebut. "Apakah yang kita tambah jenis kertas tisu atau laminating, masih dibahas karena itu juga menyangkut jenis mesin dan nilai investasi," tukasnya.

Sepanjang tahun 2017, penjualan besih PT Suparma Tbk mencapai Rp 2.093 miliar. Tumbuh 8,3 persen dibandingkan penjualan bersih 2016 yang hanya Rp 1.932 milair.

Hendro menyebut, naiknya penjualan bersih tersebut terutama disebabkan oleh naiknya harga jual rata-rata produk kertas sebesar 4,4 persen dibanding tahun sebelumnya.

Hal itu, berdampak pada produksi kertas perseroan yang juga mengalami peningkatan 1,4 persen, dari 205.111 MT di tahun 2016 menjadi 208.077 MT pada tahun 2017.

Untuk tahun 2018 ini, hingga bulan April penjualan bersih perseroan tumbuh sebesar 14,8 persen. Ini terutama disebabkan oleh naiknya harga jual rata-rata produk kertas Januari sampai April 2018 sebesar 11,1 persen, dibandingkan periode yang sama tahun 2017.

"Pencapaian penjualan bersih ini setara dengan 31,4 persen dari target penjualan bersih perseroan sebesar Rp 2.334 miliar," beber Hendro.

Sementara itu terkait gejolak kurs dolar Amerika Serikat (AS), Hendro menyebut, perseroan terus berupaya meningkatkan bahan baku lokal. Menurutnya, pada tahun 2017 lalu, komposisi bahan baku impor perseroan mencapai 24 persen, sedangkan bahan pembantu 31 persen.

"Impornya dari Kanada, Jepang, dan Selandia Baru. Negara-negara yang punya musim dingin," ujarnya.

Di Indonesia, bahan baku tersebut tidak ada, karena disini tidak ada musim dingin. Musim inilah yang membedakan panjang dan pendeknya pohon pinus, dan tentu saja umurnya. Makin tua umurnya, makin panjang seratnya.

"Makanya, harga bahan baku ini dua kali lipat dibandingkan harga bahan pembantu," tegas Hendro.

Untuk bahan baku yang tersedia di dalam negeri, Hendro menyebut jenis pulp serat pendek, yang dipakai memproduksi tisu dan kertas coklat atau laminating. "Khusus serat pendek, kita datangkan dari Riau," katanya.

Sementara untuk bahan dari kertas bekas, Hendro mengaku tidak risau. Karena selama 10 tahun terakhir ini, kertas bekas sangat berlimpah, seiring dengan sudah dipisahkannya sampah basah dan kering oleh masyarakat.

"Apalagi pertumbuhan perusahaan kertas di Indonesia juga kecil," imbuhnya. kbc7

Bagikan artikel ini: