Mei, serapan beras Bulog terendah sejak 2015

Rabu, 06 Juni 2018 | 05:44 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Masa panen raya padi sudah terlewat disejumlah daerah produsen.Sepanjang Januari hingga Juni , Senin (4/6/ 2018), Perum serapan beras Bulog teracatat 896.000 ton.Tonase serapan beras Perum Bulog dari dalam negeri tersebut merupakan angka terendah sejak tiga tahun terakhir.

Direktur Pengadaan Bulog Andrianto Wahyu Adi menuturkan rendahnya serapan Bulog disebabkan tingginya harga gabah ditingkat petani. Serapan beras di Mei 2015 mencapai 1,12 juta ton. Kemudian di tahun 2016 serapan sebesari 1,39 juta ton, dan serapan beras Bulog hingga Mei 2017 sebesar 1,12 juta ton.

“Harga gabah tinggi, mungkin di Rp 4.500 - Rp 4.600 per kg. Harga beras medium yang kami beli Rp 8.030 per kg sementara di petani mungkin sudah Rp 8.200 - Rp 8.300 per kg,” ujar Andrianto disela Rapat Koordinasi Gabungan Serga, Luas Tambah Tanam dan Optimalisasi Alsintan 2018 di Jakarta, Selasa (5/6/2018).

Andrianto pun mengatakan saat ini stok beras Bulog sebesar 1.490.000 ton, di mana sekitar 130.000 ton merupakan beras komersial.Adapun pengadaan dari impor sebesar 500.000 ton.

Kesempatan sama, menanggapi harga di tingkat petani yang tinggi, Ketua Komisi IV DPR RI Edhy Prabowo menilai perlu adanya revisi Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Namun ia meminta pemerintah untuk mematangkan dulu revisi tersebut karena risikonya adalah konsumen.

"Ada usulan tapi kita sudah minta matangkan. Kalau dari kelompok tani minta naik tapi kan jaminannya di subsidi pemerintah tambah besar siapa tanggung jawab nanti inflasi di mana-mana?" ujar Edhy.kbc11

Bagikan artikel ini: