Kian kinclong, indeks manufaktur RI tertinggi dalam 23 bulan

Kamis, 07 Juni 2018 | 22:06 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pergerakan  bisnis sektor manufaktur Indonesia terus menunjukkan tren positif. Dalam laporan indeks manajer pembelian (purchasing manager index/PMI) yang dirilis Nikkei dan Markit, PMI manufaktur Indonesia naik dari 51,6 pada April menjadi 51,7 pada Mei 2018.Survei PMI dilakukan Nikkei melalui jajak pendapat dengan beberapa manajer pembelian di perusahaan manufaktur Indonesia.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan kenaikan tertinggi selama 23 bulan terakhir ini menunjukkan pergerakan industri manufaktur nasional yang semakin ekspansif. Hal ini didorong permintaan baru yang mengalami pertumbuhan paling cepat sejak Juli 2014.

"Di samping itu, produksi manufaktur dalam negeri terus menunjukkan kenaikan selama empat bulan terakhir dan menjadi periode perluasan usaha yang terpanjang sejak lima tahun silam," kata Airlangga di Jakarta, Kamis (7/6/2018).

Airlangga menambahkan selama ini pihaknya fokus menjalakan program hilirisasi industri yang konsisten memberikan efek berantai terhadap perekonomian nasional. Dampak positif itu antara lain peningkatan pada nilai tambah bahan baku dalam negeri, penyerapan tenaga kerja lokal, dan penerimaan devisa dari ekspor."Kami juga aktif mendorong peningkatan nilai investasi dan ekspor terutama di sektor manufaktur," ujarnya.

Upaya ini diyakini mampu memacu pertumbuhan ekonomi nasional serta dapat menciptakan pemerataan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.

Kementerian Perindustrian mencatat, total investasi industri manufaktur (PMA dan PMDN) pada kuartal I 2018 mencapai Rp62,7 triliun. Sektor pengolahan ini mampu memberikan kontribusi yang besar bagi seluruh nilai investasi di Indonesia."Rata-rata kontribusi investasi di sektor industri selama periode tahun 2011-2017 mencapai 45,8%," ujarnya.

Sementara itu, pada kuartal I 2018, industri manufaktur mencatatkan nilai ekspor sebesar US$32 miliar atau naik 4,5% dibanding capaian pada periode yang sama tahun lalu di angka US$30,6 miliar.Bahkan, industri pengolahan memberikan kontribusi terbesar dalam penerimaan pajak berdasarkan sektor usaha utama pada periode Januari-April 2018. Sumbangan sektor manufaktur ini mencapai Rp 103,07 triliun dengan mencatatkan pertumbuhan double digit sebesar 11,3%."Jadi, pelaku industri kita telah menunjukkan kepatuhannya sebagai wajib pajak," pungkasnya.

Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), pada kuartal I tahun 2018, industri manufakur nasional skala besar dan sedang di dalam negeri mengalami peningkatan produksi sebesar 0,88% atau lebih tinggi dibanding kuartal IV/2017 (quarter to quarter/q-to-q) atau tumbuh 5,01% dari kuartal I-2017 (year on year/y-on-y).

Selanjutnya, industri pengolahan nonmigas tumbuh sebesar 5,03% di kuartal I/2018, meningkat dibanding periode yang sama tahun 2017 sekitar 4,80%. Sektor yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah industri mesin dan perlengkapan sebesar 14,98%.

Kinerja gemilang diikuti industri makanan dan minuman yang menempati angka pertumbuhan hingga 12,70% kemudian industri logam dasar 9,94%, industri tekstil dan pakaian jadi 7,53% serta industri alat angkutan 6,33%.kbc11

Bagikan artikel ini: