RI lobi Rusia bantu lawan kampanye hitam sawit oleh UE

Jum'at, 08 Juni 2018 | 23:29 WIB ET
Menteri  Pertanian Amran Sulaiman saat bertemu Duta Besar Rusia untuk Indonesia Ludmila Vorobieva.
Menteri Pertanian Amran Sulaiman saat bertemu Duta Besar Rusia untuk Indonesia Ludmila Vorobieva.

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pemerintah Indonesia berupaya meningkatkan kerjasama bilateral sektor pertanian dengan Rusia. Negeri Beruang Putih diharapkan membantu Indonesia memperluas akses pasar ekspor melalui melawan kampanye hitam atas komoditas sawit oleh Uni Eropa (UE).

Sebagai informasi saja, beberapa negara di UE menghambat peredaran minyak kelapa sawit karena dianggap mengadung zat karsiogenik sehingga tidak aman untuk dikonsumsi manusia. Selain itu, pengembangan budidaya tanaman sawit yang dinilai memacu deforestasi.

Menteri  Pertanian Amran Sulaiman berharap Rusia tetap obyektif dengan  melihat komoditas sawit jangan hanya dalam perspektif lingkungan hidup seperti menjaga habitat orangutan. Sebagai komoditas primadona pertanian nasional, sawit juga harus dilihat melalui pendekatan kesejahteraan komunitas khususnya masyarakat di sekekitar hutan.

Saat ini,sekitar 30 juta jiwa menggantungkan hidupnya dari komoditas sawit.Gencarnya  kampanye hitam yang berujung hambatan perdagangan sawit, menurut Amran  berpotensi menurunkan harga komoditas minyak hitam tersebut sehingga dikhawatirkan menyebabkan petani enggan membudidayakan tanam sawit dan justru beralih membuka hutan.

Sementara Rusia, kata Mentan selama ini tidak menghiraukan kampanye hitam yang dilakukan UE. "Kami minta ada perlawanan sehubungan dengan CPO Indonesia," kata Amran kepada wartawan usai bertemu dengan Duta Besar Rusia untuk Indonesia Ludmila Vorobieva di Jakarta, Jumat (8/6/2018).

Selain Rusia yang telah memahami tidak dilakukannya kampanye hitam, Jerman, Spanyol dan Denmark juga diakuinya telah memperoleh pemahaman serupa. Karena yang terpenting adalah meningkatkan kesejahteraan petani. Selain sawit, Indonesia juga menginisiasi sejumlah produk hortikultura seperti salak, manggis dan mangga untuk mengisi pasar Rusia.

Sementara Vorobieva mengatakan Indonesia dan Rusia merupakan negara produsen pertanian yang cukup besar. Keduanya saling membutuhkan hasil produk pertanian yang berbeda. Rusia, kata Vorobieva sangat membutuhkan produk pertanian non tropis seperti  kopi , kelapa,karet dan teh, pakan ternak dan lada yang selama ini sudah diterima di negaranya.

Hanya saja, ia menekankan Rusia tidak akan mempersulit akses produk pertanian asal Indonesia asal memenuhi standar keamanan pangan dan persyaratan perkarantinaan yang berlaku di Rusia dan UE. Seperti halnya komoditas sawit,menurut Vorobieva Rusia menerimanya karena Indonesia merupakan produsen sawit terbesar di dunia.

“Selain itu, benar sekali kami (Rusia) beli kelapa sawit dan produk turunan dari Indonesia. Kami dibandingkan negara Eropa lain, kami tidak menghambat. Kenapa? Indonesia karena memproduksi sawit paling banyak," ujarnya.

Vorobieva menambahkan Rusia meminta membuka diri bagi komoditas gandum dan kedelai non rekayasa genetik.Saat ini Indonesia juga menerima impor produk pertanian dari Rusia berupa ketumbar, bulu, binatang hidup, minyak atsiri, kakao dan tembakau.

Mentan kembali menjelaskan kedua negara sepakat untuk membuat workhing group untuk menindaklanjuti pembahasan secara teknis dengan Kementerian Pertanian Rusia.Sejumlah pembahasan apa saja yang dapat dibahas di level menteri nanti sehingga dapat direalisasikan.

Data Pusdatin Kementerian Pertanian menyebutkan neraca perdagangan komoditas pertanian antara kedua negara tahun 2017, menempatkan Indonesia pada posisi surplus sebesar US$ 389,1 juta. Nilai ekspor pertanian Indonesia ke Rusia mencapai US$ 639,7 juta dengan sawit sebagai kontributor utama sebesar US$ 440,6 juta .

Adapun nilai ekspor pertanian Rusia ke Indonesia mencapai US$ 250,5 juta. Komoditas gandum memberi kontribusi nilai ekspor terbesar yakni sebesar US$ 246 juta. kbc11

Bagikan artikel ini: