Tiket mudik diprediksi bakal sumbang inflasi Juni 0,22 persen

Senin, 11 Juni 2018 | 13:42 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Hasil survei Bank Indonesia (BI) hingga pekan pertama untuk Indeks Harga Konsumen (IHK) Juni 2018 mengalami inflasi sebesar 0,22 persen secara bulanan. Sedangkan, secara tahun berjalan tercatat sebesar 1,53 persen dan secara tahunan mencapai 2,75 persen.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan inflasi terjadi karena sumbangan kenaikan harga angkutan transportasi, khususnya angkutan udara dan antar pulau. "Hal ini karena banyak yang sudah pesan tiket mudik dan akan mudik, sehingga inflasi," ujarnya di kantornya, akhir pekan lalu.

Kendati inflasi meningkat dari harga tiket transportasi, namun Perry bilang, pengaruhnya tidak terlalu besar. Ia memperkirakan sumbangan dari harga tiket transportasi ini hanya sekitar 0,08 persen ke inflasi.

Ia juga mengaku tak khawatir dengan inflasi yang meningkat tipis dari realisasi inflasi pada Mei 2018 sebesar 0,21 persen. Toh, secara tahunan, inflasi menurun menjadi 2,75 persen dari sebelumnya 3,23 pada bulan lalu.

Pasalnya, ia mengklaim pemerintah dan BI terus mengupayakan stabilitas harga. Hal ini dilakukan dengan koordinasi yang lebih erat dalam memastikan dan mengantisipasi kekurangan pasokan dan kenaikan harga.

Koordinasi juga akan dilakukan dengan pemerintah daerah (pemda). "Selain itu, ada pula faktor dari terjaganya inflasi di konsumen, produsen, dan para pelaku ekonomi lainnya," katanya.

Selain itu, bila dilihat lebih rinci, masih ada beberapa komoditas yang justru mengalami penurunan harga (deflasi). "Mulai dari bawang merah, bawang putih, cabai merah, cabai rawit, udang, sampai minyak goreng," jelasnya.

Sebelumnya, data Badan Pusat Statistik (BPS) melansir inflasi Mei 2018 sebesar 0,21 persen lebih banyak disumbang oleh kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,05 persen. Hal itu dikarenakan kenaikan harga pada mie instan, air kemasan, dan rokok kretek.

Selain itu, sumbangan inflasi juga besar dari kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar inflasi sebesar 0,05 persen. "Ini karena ada kenaikan tarif kontrakan rumah dan upah asisten rumah tangga," imbuh Kepala BPS Suhariyanto.

Namun, inflasi tertinggi masih berasal dari kelompok sandang karena kenaikan harga pakaian muslim wanita. Meski begitu, sumbangannya tidak besar.

Sedangkan inflasi dari bahan makanan terjadi karena ada kenaikan harga untuk komoditas daging ayam ras, telur ayam ras, ikan segar, dan bawang merah. "Yang mengalami penurunan harga, seperti cabai merah, bawang putih, dan beras," jelasnya. kbc10

Bagikan artikel ini: