Bank pikir-pikir kerek bunga KPR, ini alasannya

Selasa, 19 Juni 2018 | 13:57 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Bank Indonesia (BI) sudah dua kali menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 4,75 persen. Kenaikan suku bunga acuan ini tentunya dikhawatirkan akan mengerek suku bunga bank, tak terkecuali suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

Melihat geliat pertumbuhan kredit yang belum maksimal tentunya bank tidak akan secara langsung menaikkan bunga. Direktur PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk Budi Satria mengatakan, kenaikan suku bunga kredit, termasuk KPR, saat ini belum menjadi pilihan bank.

"Kenaikan bunga akan berimplikasi pada peningkatan non performing loan (NPL). Hingga saat ini kami belum memilih opsi tersebut, kami masih memantau perkembangan permintaan kredit," kata dia beberapa waktu lalu.

Dirinya menambahkan, kenaikan suku bunga bank sentral akan lebih dulu mendorong kenaikan suku bunga simpanan di bank. Jika bunga simpanan sudah naik, maka suku bunga kredit serta bunga KPR akan mengikutinya.

Menurut data BI, pertumbuhan kredit sampai dengan April 2018 baru sebesar 8,9 persen atau senilai Rp4.807 triliun. Pertumbuhan kredit tersebut didorong oleh peningkatan penyaluran kredit kepada debitur korporasi sebesar 7,6 persen dan perseorangan sebesar 7,2 persen.

Khusus untuk KPR pertumbuhannya pada periode tersebut naik dari 13,3 persen menjadi 13,6 persen. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh kredit KPR atau Kredit Pemilikan Apartemen (KPA) dan perumahan (real estate) yang meningkat dari 11,9 persen menjadi 12,4 persen.

Tak hanya BTN, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI juga belum berniat menaikkan bunga untuk KPR. Kenaikan bunga KPR dinilai butuh proses sampai enam bulan ke depan setelah suku bunga acuan BI dinaikkan.

"KPR belum, belum naik, kalau jangka pendek masih oke," kata Direktur Utama Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo. kbc10

Bagikan artikel ini: