Serunya berburu berkah pasar muslim

Jum'at, 29 Juni 2018 | 11:53 WIB ET

JUMLAH umat muslim yang terus membesar menjadikannya sebagai pasar empuk bagi banyak produsen barang dan jasa. Berkah pasar sektor keuangan, pariwisata, kosmetik, sampai makanan pun diburu banyak pelaku ekonomi.

AMY Sulaksmi menatap layar gadget-nya dengan serius. Jemari lentiknya dengan lincah berselancar di situs jual-beli online.

”Lagi cari kosmestik nih, harus yang halal. Ada produk baru yang bagus, sekarang lagi laris-larisnya,” kata Amy menyebut sebuah merek kosmetik yang gencar mempromosikan produk halal.

Hijaber itu tergolong gandrung mencari produk halal. Semua kategori barang yang dia gamit di pasar harus dengan embel-embel halal. ”Produk halal lebih sehat,” katanya memberi penjelasan.

Kesadaran yang ada di jiwa Amy itu juga dirasakan jutaan umat muslim lainnya. Tren ”hijrah” terekam dalam banyak sektor usaha/bisnis. Lahirlah tren fashion busana muslim yang tumbuh pesat, makanan halal, pariwisata halal, perbankan syariah, kosmetik halal, bahkan ada sabun pel lantai yang memenuhi klasifikasi halal.

Omzetnya tentu saja luar biasa besar, apalagi populasi umat Islam di dunia sudah hampir mencapai 2 miliar jiwa. Di Indonesia, berdasarkan data Badan Pusat Statistik, dari jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 238 juta jiwa (2010), 207 juta di antaranya adalah muslim. Artinya, ada lebih dari 200 juta populasi pasar. Alangkah besar!

”Pasar tidak hanya butuh barang yang halal, tapi juga butuh tata niaga Islami, perilaku bisnis dalam rantai produksi yang beretika. Itulah ceruk pasar yang diisi para produsen barang/jasa halal. Inilah mengapa industri halal tumbuh cukup pesat,” ujar ekonom Universitas Brawijaya Dias Satria, PhD.

Mari kita cek angkanya. Belanja wisata halal saja, misalnya, pada 2012 mencapai US$ 137 miliar, belum termasuk belanja perjalanan haji dan umrah. Nilai ekonomi industri busana Muslim per tahun di Indonesia mencapai Rp 166 triliun. Khusus busana Muslim, nilainya mencapai Rp 54 triliun.

Berdasarkan laporan State of The Global Islamic Economy Report 2015/2016 yang diterbitkan oleh Thomson Reuters bekerja sama dengan Dinar Standar, Indonesia menempati peringkat pertama konsumen produk makanan halal terbesar di dunia dengan nilai US$ 157 miliar atau sekitar Rp2.041 triliun (2014). Lalu ada Turki di peringkat kedua dengan US$ 109 miliar dan Pakistan US$ 100 miliar.

Dias mengatakan, produk halal telah menjadi fenomena dunia. Bukan hanya negara dengan populasi muslim besar, tapi juga negara-negara dengan jumlah muslim minim.

”Bahkan negara yang penduduknya mayoritas non-muslim seperti Thailand, Korea, Jepang, Inggris, kini cukup getol mengejar standardisasi produk halal. Ada kesadaran bahwa produk halal, terutama makanan, bisa lebih menyehatkan,” ujarnya.

Menurut Dias, ada tantangan besar yang harus dijawab para pelaku industri halal. Selain inovasi produk, perluasan cakupan layanan juga terus dilakukan dengan berekspansi, baik secara offline maupun online. Jadi tidak hanya bisa mengandalkan sentimen emosional agama.

Dia menambahkan, gerakan ”hijrah” harus menjadi wadah ”collective actions” karena ini merupakan kekuatan besar untuk melakukan sebuah kolaborasi yang bisa berdampak signifikan ke masyarakat.

”Ini bisa menjadi embrio untuk semakin memperkuat ekonomi rakyat di Tanah Air,” pungkas Dias. kbc9

Bagikan artikel ini: