Pemerintah siapkan co-working gratis buat pengusaha milenial

Jum'at, 29 Juni 2018 | 15:13 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pemerintah melalui Kementerian Ketenagakerjaan akan menyiapkan ruang kerja (co-working space) bertajuk Innovation Room untuk para calon pengusaha perusahaan rintisan (start up) dari generasi milenial.

Berbeda dengan co-working space pada umumnya yang menarik biaya, bentukan Kemenaker ini tak dipungut biaya sama sekali alias gratis. Selain itu, ruangan ini dioperasikan selama 24 jam setiap harinya.

Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri mengatakan ruang kerja ini sengaja dihadirkan agar kalangan milenial yang cenderung menyukai tempat kerja berpindah-pindah, bisa mendapatkan tempat kerja yang memadai dan tidak mahal.

"Sering anak muda datang ke saya, minta rekomendasi untuk lomba. Saya tanya mereka kerjakan di mana? Mereka bilang di kafe, tapi sering diusir kalau sampai terlalu larut. Saya bilang, kalau saya sediakan ruangan mau tidak? Katanya mereka mau asal ada wifi," ujarnya di kantornya, Kamis (28/6/2018).

Tak hanya sekadar menyediakan ruangan, Hanif bilang akan menyediakan berbagai fasilitas dan program bagi milenial untuk mengembangkan proyek kreatif dan bisnis digital. Tujuannya, supaya dapat menciptakan lapangan kerja baru dan mengurangi pengangguran angkatan muda.

"Saya tidak mau sekadar co-working space saja, tapi saya hadirkan program, inkubasi, pelatihan IT, dan lainnya," katanya.

Lebih rinci, ia menyiapkan program teknologi produksi, membuat prototype, pengujian, demonstrasi, menduplikasi, dan mengadaptasi teknologi. Program itu diyakini bisa melahirkan start up yang kompeten dan berdaya saing dengan negara-negara di dunia.

Maklum, Indonesia terbilang salah satu negara yang subur melahirkan start up. Data start up ranking per Juni 2018, Indonesia menempati urutan keenam di dunia dari sisi jumlah start-up, yaitu mencapai 1.830 perusahaan.

Namun, belum seluruhnya berdaya saing tinggi, untuk itu masih perlu ditingkatkan lagi dengan dukungan-dukungan seperti ini.

Di sisi lain, Hanif melihat pencetakan milenial yang memiliki keahlian digital adalah suatu keharusan saat ini. Sebab, semua lini bisnis dan bidang pekerjaan telah menuntut digitalisasi. Belum lagi, dari sisi budaya masyarakat juga sudah mulai berubah.

Mereka, kata Hanif, menggantungkan hidup pada akses internet dan digital. Hal ini terbukti dari Data Survei Penetrasi dan Perilaku Pengguna Internet Indonesia Tahun 2017 dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII).

Data itu menyebut bahwa jumlah pengguna internet di Tanah Air mencapai 143,26 juta atau 54,68 persen dari total jumlah penduduk mencapai 262 juta orang. Dari jumlah itu, sekitar 49,52 persen merupakan kalangan mudah berusia 19-34 tahun.

Tak hanya mendirikan ruangan dan program, ke depan Innovation Room akan digunakan untuk mempertemukan para start up yang membutuhkan permodalan dengan kalangan bank. Dengan begitu, ide yang telah dibuat dapat benar-benar direalisasikan dengan modal yang ada.

Saat ini, salah satu bank yang sudah dirangkul pemerintah, yaitu PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI. Namun, Hanif belum bisa memberi jaminan bahwa nantinya semua start up yang memanfaatkan Innovation Room akan mendapat akses modal itu. Sebab, harus dilihat lagi bagaimana konsep bisnis tersebut.

Direktur Utama BRI Suprajarto mengatakan saat ini bank juga belum bisa memberikan proyeksi berapa dana yang disiapkan untuk permodalan start up. Begitu pula dengan pemetaan waktu kapan program itu bisa berjalan.

"Nanti kami lihat lagi. Tapi yang jelas ini bermanfaat sekali, karena bisa saja bukan sekadar memberi modal, tapi platform digital yang mereka hasilkan bisa digunakan perbankan," pungkasnya. kbc10

Bagikan artikel ini: