Kenaikan suku bunga acuan belum manjur bisa angkat rupiah

Senin, 02 Juli 2018 | 07:56 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin (bps) pada Jumat (29/6/2018). Meski begitu, dampaknya diperkirakan bakal sementara lantaran masih kalah dengan sentimen global.

"Meskipun di atas ekspektasi pelaku pasar karena naik 50 bps, belum mampu menguatkan kurs rupiah sesuai target," kata Bhima Yudhistira, ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF).

Pernyataan tersebut disampaikan seiring dengan kondisi rupiah yang masih melemah terhadap dollar Amerika Serikat. Pada penutupan perdagangan Jumat, rupiah ada di level Rp 14.325 per dollar AS. Bhima menambahkan, kondisi tersebut seharusnya menjadi alarm peringatan bahwa menaikkan suku bunga acuan bukan satu-satunya jawaban untuk penguatan kurs rupiah.

"Harus ada kombinasi kebijakan fiskal dan moneter yang terukur dan tepat sasaran. Misalnya membuat paket tentang stabilisasi kurs dengan perbanyak insentif bagi sektor penguat devisa," ucap dia.

Bhima menyebutkan, kenaikan bunga acuan total yang sampai satu persen dalam kurun waktu dua bulan terakhir bakal langsung dirasakan ke bunga kredit perbankan. "Kekhawatiran bunga acuan yg sudah naik 100 bps ini bakal kontraksi ke sektor riil terutama ke pertumbuhan ekonomi. Kalau cost of borrowing naik, pengusaha bisa melakukan aneka efisiensi untuk menekan biaya produksi. Salah satu efisiensi yang ditakutkan adalah PHK," sambungnya.

Untuk itu, mitigasi yang bisa dilakukan selain dengan relaksasi kredit seperti LTV adalah dengan mendorong konsolidasi perbankan dan menekan NIM. Pasalnya, naiknya kembali suku bunga BI bisa dipastikan membuat bank sangat sensitif sebab terjadi perebutan dana murah oleh 117 bank.

"Hal itu kurang sehat sehingga bank saling tawarkan bunga deposito yang tinggi. Harusnya jumlah bank bisa didorong kurang dari 100 bank dengan jalan OJK memberi banyak insentif," pungkas Bhima. kbc10

Bagikan artikel ini: