Rupiah terjungkal, pabrikan otomotif ancang-ancang naikkan harga jual

Senin, 09 Juli 2018 | 07:50 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Tren pelemahan kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang menembus Rp 14.400 mulai mengusik kalangan industri otomotif di Tanah Air. Mereka mulai ancang-ancang untuk merevisi harga jual dalam 1-2 bulan ini.

Presiden Direktur PT Hyundai Mobil Indonesia, Mukiat Sutikno mengungkapkan, pada akhir Juli ini, pihaknya harus mengambil sikap terhadap tren pelemahan kurs rupiah terhadap dolar AS. Sebab kurs Rp 14.400 per dolar saat ini sudah sangat jauh dibandingkan kurs di Desember yang di level Rp 13.500. Apalagi kurs Desember tersebut masih menjadi patokan bagi pabrikan otomotif di Indonesia.

"Kenaikan harga jual akan dilakukan, tapi dilakukannya secara progresif atau tidak, itu problemnya. Namun, industri otomotif kesulitan melakukan penyesuaian langsung. Kami akan menyesuaikan secara seimbang, di titik di mana konsumen bisa menerima kenaikan. Sebab kondisi ekonomi nasional stagnan, sehingga kami tidak bisa menaikkan harga akibat kurs ini saja," ujar Mukiat usai perkenalan New Hyundai H-1 di Jakara, akhir pekan lalu.

Vice President PT Toyota-Astra Motor, Henry Tanoto pernah mengaku pelemahan kurs rupiah terhadap dolar AS berdampak terhadap biaya produksi. Namun, pihaknya mengupayakan dampaknya terhadap konsumen sangat minim, termasuk kenaikan harga jual produk.

Sebelumnya, beberapa pabrikan otomotif lain di Indonesia juga memperhatikan betul tren pelemahan kurs rupha terhadap dolar AS. Seperti Mitsubishi Motors Indonesia, Suzuki Indonesia, dan lain-lain. Mereka mengakui pelemahan kurs rupiah sangat strategis sebab mempengaruhi biaya pokok produksi. Apalagi komponen utama moibl masih banyak yang diimpor. kbc10

Bagikan artikel ini: