Ambisi jadi lumbung pangan dunia, FAO: Ketahanan pangan RI rentan

Selasa, 10 Juli 2018 | 08:50 WIB ET

JAKAR TA, kabarbisnis.com: Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman memiliki mimpi besar ingin mewujudkan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia di tahun 2045 mendatang. Namun, diilain pihak saat ini ketahanan pangan nasional masih tergolong rentan.

Ratno Soetjiptadie, Phd, Senior Expatriate Tech Cooperation Aspac FAO- UN dalam diskusi terbatas bertema “Produktivitas Padi Versus Impor Beras.Ada Apa? di Jakarta, Senin (9/7/2018) mengingatkan saat ini 500 juta petani harus memberi makan 7 miliar penduduk dunia. Karenanya,  isue kelaparan yang berubah menjadi  hunger disaster seperti terjadi di negara Ethopia di tahun 1980 an menjadi perhatian serius dunia.

Adapun peta The Global Food Security Index (GFSI)  2015-2080 menempatkan Indonesia ditempatkan sebagai negara yang dikategorikan dalam kerentanan pangan.  Bahkan kerentanan pangan di Provinsi di Nusa Tenggara Timur dan dan Papua digolongkan beresiko tinggi .

Menurutnya, ketidakseimbangan suplai pasokan pangan terjadi di beberapa daerah. Diakui di beberapa daerahtelah mengaplikasikan mekanisasi pertanian, namun tidak sedikit pula yang masih menerapkan pola konvensional.

Ratno menilai hal ini tidak lain karena minimnya pemahaman petani. Seperti pengetahuan obat-obatan , memilih benih hinggga mengukur PH tanah. Mengenai hal ini, merujuk  hasil riset, petani di Thailand memiliki bobot nilai 7, Vietnam 6 sementara petani Indonesia hanya mengantongi nilai 2.

Penerapan revolusi hijau yang berupaya menggenjot produksi hasil pertanian berimbas penurunan kesuburan lahan pertanian.Survei yang dibuatnya, sekitar 69 % lahan pertanian dikategorikan kategori rusak parah karena penggunaan pupuk kimia secara massif dan penggunaan pestisida yang tidak sesuai rekomendasi teknis.

Ratno menambahkan kondisi tanah tersebut mudah dijumpai seperti di Krawang , Jawa Barat dan Serang, Banten.Tanaman padi hanya berwarna hijau , namun ketika diberikan pupuk tidak merespon.Menurut ketahanan pangan bukan hanya persoalaan pemenuhan kebutuhan pangan hari ini saja, tetapi harus berkesinambungan. Bahkan ,kini penduduk belia Indonesia juga mengalami masalah ‘stunting’ atau bertubuh pendek akibat kekurangan nutrisi dan gizi.

Rapat Koordinasi Menko Perekonomian  memutuskan impor beras 500.000 ton dan izin impor beras bertambah 500.000 ton meski Kementerian Pertanian  mengklaim produksi padi tahun 2017 mencapai 82,3 juta ton gabah kering giling (GKG) atau naik 5% dibandingkan tahun 2016.Hal itu ditopang Upaya Khusus melalui luas tambah tanam .Bukan kenaikan produktivitas hasil tanam.

Ketahanan pangan Indonesia dikategorikan rentan karena secara letak geografi sebagai negara kepulauan kerap mengalami perubahan iklim.  Sejumlah daerah produsen padi berada didaratan rendah yang mengakibatkan banjir dan mudah terkena serangan hama wereng. Kerentenan pangan ini yang gilirannya terjadi karena akses masyarakat memperoleh pangan menjadi mahal.

“Bagaimana kalau sampai terjadi kemarau panjang atau banjir besar. Potensi gagal panen semakin besar, ketergantungan Indonesia mengimpor bahan pangan seperti beras dari negara lain semakin besar,”tegasnya.

Pada satu titik harga pokok beras tinggi di Indonesia sebesar Rp 5.900 per kilogram (kg), Vietnam Rp 2.300 kg,Australia sebesar Rp 1.800 kg . Padahal ditanam dilahan kering. Biaya pokok produksi rendah karena dibantu teknologi benih dan mekanisasi pertanian.

Dia mengusulkan pemerintah segera menjalankan soil amandement program atau pengembalian kesuburan tanah. Pendekatannya memberbaiki sifat bilogi tanah. Penggunaan pupuk kimia secara massif dan penggunaan pestisida sesuai takaran yang dianjurkan mengakibatkan hilangnya potensi produksi padi antara 20% -80%.kbc11

Bagikan artikel ini: