Bukannya lari, pengembangan padi hibrida malah jalan di tempat

Selasa, 10 Juli 2018 | 10:34 WIB ET
(ilustrasri)
(ilustrasri)

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pengembangan padi hibrida di Tanah Air dalam tiga tahun terakhir berjalan di tempat. Hingga kini, luas penanaman benih padi hibrida masih dibawah  satu persen dari total luas areal tanam sebesar 14 juta hektare (ha).

Ketua Kompartemen Tanaman Pangan Asosiasi Perbenihan Indonesia (Asbenindo)  Benny Sugiharto menegaskan industri perbenihan nasional belum dapat memenuhi kebutuhan pasar. “Permintaan petani seperti di Jawa Timur, pesisir Selatan Jawa , Lampung sampai Aceh yang ingin menanam benih hibrida tinggi tapi kita belum dapat memproduksi,”ujar Benny menjawab kabarbisnis.com usai diskusi terbatas bertema “Produktivitas Padi Versus Impor Beras.Ada Apa? di Jakarta, Senin (9/7/2018).

Tahun 2018,produsen memproduksi 200 ton benih hibrida,  mengalami penurunan hingga 300 ton dibandingkan produksi tahun 2017 sebesar 500 ton. Padahal kebutuhan pasar benih hibrida nasional  mencapai 3.000 ton per ha.

Mayoritas produksi padi nasional ditopang benih padi inbrida seperti varietas Ciherang (34%). Padahal produktivitas benih hibrida 20%-30% lebih tinggi dari benih inbrida. “Kalau petani menggunakan benih ibrida seperti Inpari , potensi produktivitasnya antara 5-6 ton per hektare, tapi kalau menggunakan benih hibrida minimal mencapai 7 ton per hektare .Di pesisir selatan Jawa ,provitasnya mencapai 8 ton per hektare. Petani meminta tapi memang barang tidak ada,”terangnya.

Benny menjelaskan areal penanaman benih hibrida di Tanah Air kurang dari satu persen dari total luas penanaman padi seluas 14 juta ha. Padahal tahun 2012, luas penanaman benih padi hibrida sempat mencapai 3,9%.

Menurutnya Cina menjadi negara  yang terbilang sukses mengembangkan padi hibrida. Hingga 2010,proporsi luas areal tanam hibrida mencapai 51,8 % & terhadap total luas tanam padi. Vietnam sebesar 10% dan  Bangladesh 6,8%.

Mengutip data Kementerian Pertanian yang menyebutkan dalam tiga tahun terkarhir produksi padi terus meningkat. Tahun 2017, produksi padi mencapai 82,3 ton gabah kering giling (GKG).Namun,penaikkan angka produksi padi tersebut justru tidak dibarengi produktivitas padi.

Pada tahun 2017, produktivitas padi nasional tercatat 5,16 ton per ha. Angka tersebut mengalami penurunan  mengingat tahun 2016  provitas padi sebesar 5,24 ton per ha. Bahkan di tahun 2015, provitas padi sempat menyentuh 5,34 ton per ha.

Sebagai informasi saja, padahal kurun waktu terus pemerintah terus mendorong penggunaan benih bersertifikat dan bermutu melalui bantuan benih bersubsidi. Bahkan mekanisme penyaluran diubah dari melalui Badan Usaha Milik Negara menjadi bantuan langsung.

Namun, faktanya peningkatan produksi padi bukan ditopang kenaikan produktivitas tanam, tapi hanya luas pertambahan lahan.Menurutnya  apabila pemerintah memiliki komitmen tinggi  untuk mengembangkan produksi padi hibrida maka penambahan input sarana produksi seperti pupuk dan obat-obatan tidak perlu dilakukan.

Benny berpendapat industri perbenihan dapat menaikkan kapasitas produksi setara lima persen atau dari total luas penanaman padi .Hal ini sejalan dapat dilepasnya varietas padi hibrida baru dan segara dikomersialisasikan. Namun kondisi tersebut dapat dilakukan apabila pemerintah memiliki komitmen tinggi  menjalankan aturan yang sudah dirilis yakni Permentan 127/2014 tentang Pemasukan dan Pengeluaran Benih khususnya Pasal 9 ayat 3.

Ketentuan tersebut memperbolehkan bagi industri mengimpor benih selama tiga tahun.Dengan waktu tersebut, memberi kesempatan bagi industri meningkatkan kualitas benih.Sementara  untuk memproduksi benih secara massal, industri harus bekerjasama dengan para penangkar.

Namun, di lapangan kemampuan penangkar tidak seragam , melalui ‘proses pembelajaran ‘ mengakibatkan potensi produktivitas masih rendah dari potensinya. Lagipula waktu memproduksi benih dilakukan pada Musim Kering (MK)  yakni April dan September. Sementara di awal tahun, pemerintah baru menetapkan kebutuhan benih.”Ketidaksinkronan tahun anggaran ini merupakan tantangan bagi industri benih merencankan bisnis,”pungkasnya. kbc11

Bagikan artikel ini: