Pengamat: Cawapres Jokowi sebaiknya berlatar ekonom dan teknokrat kerakyatan

Selasa, 10 Juli 2018 | 12:55 WIB ET
Airlangga Pribadi (kiri)
Airlangga Pribadi (kiri)

SURABAYA, kabarbisnis.com: Jelang tenggat waktu pendaftaran capres-cawapres di KPU Agustus 2018 sejumlah nama bermunculan untuk diusulkan menjadi cawapres calon presiden petahana, Joko Widodo. Sebagaimana disampaikan Ketua DPP PPP, Romihurmuziy, setidaknya terdapat sepuluh nama cawapres Jokowi dengan berbagai berlatar mulai dari purnawirawan TNI, akademisi, pengusaha, politisi sampai ekonom-teknokrat.

Pengamat politik dari Universitas Airlangga, Surabaya, Airlangga Pribadi menyarankan cawapres Jokowi sebaiknya berasal dari sosok teknokrat independen yang memahami ekonomi secara lengkap, teruji dan bervisi kerakyatan. Menurutnya sosok tersebut antara lain terdapat pada diri Menko Perekonomian Darmin Nasution dan Gubernur Jawa Timur Soekarwo. Hal itu dinyatakan Airlangga saat hadir menjadi pembicara pada acara diskusi "Diskursus Ekonomi Kerakyatan dan Pilpres 2019" yang diselenggarakan oleh Lembaga Ekonomi Mahasiswa Islam (LEMI) di Surabaya pada Selasa 10/7/2018.

"Darmin Nasution adalah sosok ekonom yang lengkap, berkarakter dan otonom. Program ekonomi bervisi jangka panjang Jokowi seperti infrastruktur akan diperkuat dengan kebijakan ekonomi yang inklusif berorientasi pemerataan seperti halnya reforma agraria dan bantuan kesehatan serta pendidikan. Dan topik ekonomi kerakyatan seperti ini seperti yang kita paham merupakan kekuatannya Pak Darmin. Kriteria seperti itu juga kita temukan pada sosok Pakde Karwo yang telah cukup baik membangun Jawa Timur dalam lanskap tata kelola pemerintahan dan ekonomi kerakyatan ini", ujar doktor alumni Murdoch University, Perth, Australia ini.

Indonesia saat ini dan lima tahun ke depan isunya adalah ekonomi. Hal itupun diakui oleh pembicara lainnya, pengajar ekonomi Universitas Airlangga, Gigih Prihantono. Menurut Gigih, tantangan bangsa Indonesia secara khusus adalah situasi ekonomi dunia dan ketimpangan sosial.

"Penting bagi bangsa ini untuk melihat bahwa stagnasi ekonomi saat ini harus dijawab dengan sebuah formula kebijakan dan proyeksi kepemimpinan yang paham bagaimana menjaga dan memajukan ekonomi nasional. Komposisi SBY-Boediono dapat menjadi inspirasi ke depan Jokowi agar memilih sosok ekonom yang berpaham ekonomi inklusif dan berkelanjutan", ujar Gigih.

Ketua LEMI Kota Surabaya, Dimas Kholilur Rahman, berharap diskursus politik nasional jangan hanya didominasi oleh isu politik identitas dan pertarungan antar kekuatan. Ia berharap isu ekonomi kembali menjadi sentral pertimbangan dan pilihan-pilihan kebijakan khususnya untuk pilpres 2019 mendatang. kbc10

Bagikan artikel ini: