AS minta produk kedelai dan apel tak dihambat masuk RI

Rabu, 11 Juli 2018 | 18:41 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita mengungkapkan Amerika Serikat (AS) meminta agar Indonesia tidak menghambat impor produk hortikultura yakni kedelai dan apel.

"Mereka tidak mau ada barrier untuk produknya ke sini," kata Mendag usai rakortas perekonomian di Jakarta, Rabu (11/7/2018).

Menurut Enggar kekhawatiran AS tersebut muncul karena pemerintah Indonesia sempat berencana menaikkan tarif bea masuk untuk produk hortikultura. Namun demikian, rencana itu tidak dilanjutkan karena pemerintah khawatir dampaknya akan dirasakan oleh pelaku usaha kecil dan menengah. “Pengusaha tahu dan tempe pasti protes,” ujarnya.

Hubungan dagang antara Indonesia dan AS sedikit menegang. AS menganggap Indonesia telah menyumbang defisit perdagangan yang besar bagi mereka. Sementara, Indonesia justru mendapat surplus dari perdagangan dengan AS sebesar US$ 14 miliar pada 2017.

Karena tak mau terus menderita defisit, Pemerintah Amerika melalui United States Trade Representative (USTR) kini tengah mengkaji ulang kelaikan Indonesia untuk menerima Generalized System of Preference (GSP).GSP merupakan kebijakan perdagangan suatu negara yang memberikan manfaat pemotongan bea masuk impor terhadap produk ekspor dari negara lain.

Jika USTR menilai Indonesia tak lagi laik mendapatkan fasilitas GSP, maka produk asal Tanah Air yang diekspor ke AS akan dikenakan tarif normal.Berdasarkan laporan GSP AS pada tahun 2016, Indonesia memperoleh manfaat GSP sebanyak US$ 1,8 miliar  dari total ekspor sebesar US$ 20 miliar .

Mendag berencana terbang ke AS untuk menemui Departemen Perdagangan AS atau United States Trade Representative (USTR) pada akhir Juli mendatang. Mendag akan melakukan negosiasi dengan USTR agar Indonesia tetap mendapatkan fasilitas Generalized System of Preference (GSP).“Kita akan bicara dengan USTR agar GSP tetap kita dapatkan,” kata Enggartiasto.

Mendag melanjutkan pemerintah akan melobi agar Indonesia bisa mendapat fasilitas lain dari AS selain GSP. Sebab, jika GSP dicabut, maka Indonesia tidak memiliki fasilitas lain yang bisa digunakan untuk mendapatkan tarif bea masuk lebih rendah. Sebagai dampaknya, ekspor Indonesia ke Amerika berpotensi terganggu."Ada 3.547 tarif lines yang mengandung konsekuensi itu," pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: