Siap-siap! BCA bakal kerek bunga kredit pada Agustus

Kamis, 12 Juli 2018 | 06:50 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: PT Bank Central Asia Tbk (BCA) berencana melakukan penyesuaian suku bunga kredit, menyusul langkah Bank Indonesia (BI) yang menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,25% dengan alasan menjaga nilai tukar rupiah dari tekanan eksternal.

Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan, pihaknya akan segera menyesuaikan tingkat bunga kredit. Sebelumnya perseroan sudah menaikkan bunga deposito sekitar 100 basis poin (bps).

"Agustus hampir pasti bunga pinjaman harus naik, karena bunga deposito kami sudah naik empat kali sudah 100 basis poin naiknya," kata Jahja, Rabu (11/7/2018).

Dia menjelaskan meskipun ada kenaikan bunga kredit, namun tidak untuk seluruh segmen kredit. Misalnya untuk bunga kredit pemilikan rumah (KPR) saat ini sudah sangat rendah 5,88% dan tidak mungkin dinaikkan.

Kredit kendaraan bermotor (KKB) di kisaran 3,17% dan 3,2% untuk bunga tetap. Saat ini bunga efektif berada di kisaran 6,5% hingga 7% dan kemungkinan bunga ini akan disesuaikan.

"Variasi kenaikannya bisa 0,25% - 0,5% itu tergantung. Saya mesti lihat angka-angka dulu. Kami juga mau tahan dan jangan buru-buru bunga kredit naik, tapi kalau mengganggu profitabilitas ya terpaksa," jelas dia.

Jahja menjelaskan, Bank sentral berpotensi untuk meningkatkan suku bunga acuannya lagi di kisaran 50 bps hingga 100 bps. Ini karena bunga bank sentral AS atau The Federal Reserve masih akan naik.

Menurut Jahja setiap kenaikan Fed Fund Rate 0,25% jika diimbangi bunga acuan BI 0,25% tidak akan cocok. BI harus menaikkan lebih tinggi dari bank sentral AS.

"Jadi kalau Amerika menaikkan FFR lagi 25 bps di September, terus Desember 25 bps lagi kalau Indonesia tidak naik (bunga) ya susah," ujarnya.

Kenaikan bunga juga dilakukan untuk menenangkan kurs rupiah dan menjaga keseimbangan. Menurut dia, kenaikan bunga acuan adalah pilihan. Jika bunga tak naik maka kurs akan tertekan, kalau bunga kan tidak semua orang memiliki kredit.

Dia menambahkan, jika kurs yang terganggu maka akan mempengaruhi harga minyak, ongkos produksi, bahan baku dan dampaknya merata. "Dampaknya ini lebih bahaya daripada hanya naik bunga. Memang konsekuensinya kalau bunga naik, permintaan pasti turun," jelas dia. kbc10

Bagikan artikel ini: