Pasar masih letih lesu, ini strategi Sido Muncul genjot penjualan

Jum'at, 13 Juli 2018 | 02:35 WIB ET
Direktur Sido Muncul Irwan Hidayat (kanan) bersama Najwa Shihab di Spazio Surabaya.
Direktur Sido Muncul Irwan Hidayat (kanan) bersama Najwa Shihab di Spazio Surabaya.

SURABAYA, kabarbisnis.com: Di tengah masih melemahnya daya beli masyarakat, Industri Jamu dan Farmasi PT Sido Muncul Tbk tetap optimis tahun ini penjualannya masih bertumbuh. Pengembangan pasar serta menghasilkan produk yang inovatif menjadi senjata bagi pabrikan ini untuk bisa menjaga kinerja positif.

Direktur PT Sido Muncul Tbk, Irwan Hidayat menuturkan, tahun ini pihaknya menargetkan penjualan sekitar 10 persen. Meski sepanjang semester I lalu penjualannya belum bisa sesuai harapan, namun pihaknya optimistis di semester dua ini kinerja perseroan bisa digenjot.

"Kami tidak tahu kenapa semester satu lalu penjualan masih belum sesuai harapan. Mungkin daya beli masyarakat yang melemah. Tapi semua industri mengalami hal yang sama," katanya di sela acara 'Catatan Najwa' yang digelar PT Intiland Development Tbk di gedung Spazio, Surabaya, Kamis (12/7/2018) malam.

Dipaparkannya, untuk memenuhi target kenaikan penjualan tersebut, pihaknya menyiapkan sejumlah strategi, seperti dengan mengeluarkan produk baru, menambah kapasitas produksi, serta memperluas jangkauan pasar.

"Untuk produk baru, tahun ini kami mengeluarkan produk soft capsule untuk produk Tolak Angin dan Tolak Linu. Ini adalah produk soft capsule pertama kami, dan diharapkan bisa memperluas segmentasi pasar," ujar Irwan.

Diakuinya, saat ini perseroan sudah membangun pabrik soft capsule di Semarang dengan investasi sekitar Rp 15 miliar. Saat ini pabrik tersebut masih dalam tahap trial produksi, ditargetkan pada Septem,ber 2018 mendatang sudah bisa dipasarkan.

"Sasaran market kami selain domestik juga ekspor," ujarnya.

Strategi lain, kata Irwan, adalah dengan menambah kapasitas produksi jamu cair, seperti Tolak Angin Cair, Tolak Linu, dan Madu Kembang Sido Muncul.

Sama dengan pabrik soft capsule, pabrik baru untuk jamu cair tersebut saat ini juga masih dalam tahap validasi mesin dan trial produksi. Pabrik baru yang dibangun dengan investasi sebesar Rp 700 miliar tersebut nantinya memiliki kapasitas produksi sebesar 200 juta sachet per bulan. Naik signifikan dibandingkan dengan pabrik lama yang sudah ada yang sebesar 80 juta sachet per bulan.

"Keunggulan pabrik terbaru ini, pertama, kapasitas lebih besar, kedua, sistem otomatis mampu meminimalisasi kesalahan pada proses pembuatan produk, dan ramah lingkungan," jelasnya.

Dengan teknologi canggih yang digunakannya, kata dia, proses produksi di pabrik baru tersebut sudah sedemikian diatur secara presisi.

Diakuinya, selama ini produk jamu cair, yakni Tolak Angin, Kuku Bima, Tolak Linu, dan Kopi Jahe memberikan kontribusi terbesar bagi perseroan, seiring dengan terus meningkatnya permintaan.

"Permintaan terus meningkat. Makanya, seiring permintaan pasar yang terus meningkat, kami membutuhkan ruang produksi yang lebih besar dengan dukungan teknologi modern," kata Irwan.

Sementara itu terkait pengembangan pasar, pihaknya juga terus melakukan penetrasi, baik untuk pasar domestik maupun ekspor. Selama ini, produk Sido Muncul telah masuk ke sejumlah negara seperti Timur Tengah, Malaysia, dan Singapura.

"Bahkan saat ini kami telah memiliki kantor pemasaran di Nigeria dan Filipina. Jadi kami serius mengembangkan pasar di negara tersebut. Sebelumnya kami telah ada di Australia dimana telah masuk ke toko-toko mainstream," ulas Irwan. kbc7

Bagikan artikel ini: