Fasilitas GSP dicabut AS, neraca perdagangan RI kian gawat

Minggu, 15 Juli 2018 | 13:30 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pencabutan fasilitas penuturan atau pembebasan tarif/generalized system of preference (GSP) oleh Amerika Serikat terhadap Indonesia dapat mengancam neraca perdagangan. Neraca perdagangan Indonesia kini sedang defisit dan dikhawatirkan akan memburuk dengan pemberlakuan GSP.

Strategi bebas bea yang akan ditawarkan pemerintah diharapkan bisa menjadi solusi untuk keberlanjutan GSP terhadap Indonesia.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Novani Karina Saputri mengatakan diterima atau tidaknya strategi bebas bea masuk yang akan diajukan pemerintah harus diantisipasi sedini mungkin. Salah satunya dengan peningkatkan kualitas barang ekspor.

Pemerintah harus dapat melobi Amerika Serikat agar Indonesia dapat mengekspor produknya dengan fasilitas GSP. Tanpa keringanan bea masuk, harga jual produk Indonesia akan tinggi di pasar Amerika Serikat.

“Produk Indonesia menjadi tidak kompetitif terhadap produk ekspor negara lain yang masih menikmati fasilitas GSP, mau tidak mau nilai ekspor Indonesia akan terancam,” ujar Novani dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (15/7/2018).

Selain itu, pemerintah juga harus fokus pada peningkatkan nilai ekspor. Untuk meningkatkan nilai ekspor, pemerintah bisa memberikan berbagai insentif kepada para pelaku usaha, misalnya saja melalui kebijakan fiskal atau perpajakan. Insentif yang diberikan bisa disesuaikan dengan kebutuhan industri masing-masing.

Pemberian insentif juga harus didukung oleh perbaikan/ peningkatan kualitas produk yang akan berdampak pada daya saing produk itu sendiri di pasaran. Indonesia tidak hanya mengandalkan persaingan harga, tetapi produknya juga harus bisa kompetitif di sisi kualitas.

Neraca perdagangan kini sedang defisit karena terbebani oleh tingginya nilai impor migas. Sepanjang Januari-Mei 2018, neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit US$2,83 miliar. Di satu sisi, dia memandang neraca perdagangan masih berpotensi untuk surplus untuk periode selanjutnya dengan catatan nilai ekspor nonmigas dapat ditingkatkan.

"Kalau neraca perdagangan kita terus dibiarkan mengalami defisit maka akan mendorong terjadinya defisit neraca berjalan sehingga akan berdampak pada kondisi ekonomi secara agregat," imbuhnya.

Dalam GSP, ada 3.546 tarif yang mendapatkan keringanan bea masuk ke Amerika Serikat. Presiden Donald Trump dikabarkan baru akan memutuskan mengenai GSP pada November mendatang. kbc11

Bagikan artikel ini: