OJK catat ada 27 perusahaan fintech antre dapatkan izin operasi

Senin, 16 Juli 2018 | 08:54 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat hingga pertengahan tahun ini ada sekitar 27 perusahaan fintech peer to peer (P2P) lending yang sedang menunggu izin operasi. Mereka berharap bisa mendapatkan status terdaftar dari regulator.

Hal ini sesuai dengan Peraturan OJK Nomor 77/POJK/2016 tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi. Secara umum, perusahaanfintech yang ingin beroperasi di Indonesia, harus memenuhi syarat dari OJK yakni sudah berstatus terdaftar dan berizin dari pemerintah.

Direktur Pengaturan Perizinan dan Pengawasan Fintech OJK Hendrikus Passagi mengatakan, sekitar 27 fintech tersebut masih ditinjau, apakah sudah memenuhi syarat sebagai perusahaan fintech yang resmi terdaftar atau tidak.

“Untuk saat ini yang sedang berproses ada 27 perusahaan fintech yang ingin mengajukan status terdaftar di OJK,” kata Hendrikus di Jakarta, akhir pekan lalu.

Sementara itu, OJK juga telah mengembalikan berkas sekitar 44 perusahaan fintech yang dinilai belum memenuhi syarat dari sisi data kepemilikan saham perusahaan, kelengkapan data identitas komisaris dan direksi.

“Kami sangat berhati-hati mengembalikan berkas tersebut, dan ada pertimbangannya untuk mengetahui secara benar siapa pemilik sahamnya, siapa komisarisnya, siapa direksinya. Sebab mereka yang menjalankan bisnis ini dan ini melibatkan data pribadi masyarakat,” jelasnya.

Hingga Juni 2018, OJK mencatatat ada 63 fintech yang terdaftar dan satu perusahaan yang telah mengantongi izin dari regulator yaitu PT Pasar Dana Pinajaman atau Danamas.

Danamas telah berstatus terdaftar dari OJK sejak Juli 2017. Di periode yang sama, OJK mencatatkan kredit macet (NPL) pembiayaan perusahaan fintech sebesar 0,58%. Angka tersebut, turun signifikan dibandingkan Januari 2018, yang sebesar 1%.

Menurutnya, penurunan NPL tersebut berkat bantuan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang mampu menyeleksi secara ketat calon peminjam.

“Ini menunjukkan mesin cerdas buatan itu semakin cerdas, karena semakin banyak data yang diterima dan dikelola,” ujarnya. kbc10

Bagikan artikel ini: