Ada investor, pemerintah siap lepas Merpati Nusantara

Selasa, 17 Juli 2018 | 07:14 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pemerintah melalui Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) siap melepas PT Merpati Nusantara Airlines (Persero). Peluang untuk melepas kepemilikan maskapai penerbangan tersebut secara keseluruhan pun terbuka.

Pasalnya utang yang besar diakui akan memberikan beban kepada negara. Saat ini pun telah ada satu investor yang melirik Merpati. Pemerintah pun terus melakukan negosiasi dengan investor untuk menemukan skema terbaik.

"Sekarang ada investor mau masuk kita akan coba, nantinya kalau kita terdelusi juga tidak apa-apa," ujar Deputi Bidang Restrukturisasi dan Pengembangan Usaha Kementerian BUMN Aloysius K Ro usai rapat dengan komisi VI DPR, Senin (16/7/2018).

Sebelumnya Kementerian BUMN telah mengajukan persetujuan privatisasi terhadap Merpati. Permintaan tersebut pun telah disetujui oleh Komite Privatisasi.

Aloy bilang Komite Privatisasi akan mengusulkan privatisasi Merpati ke DPR. Bahkan pemerintah pun siap bila saham negara di Merpati sampai 0%.

Asal tahu saja pada tahun 2017 aset Merpati hanya sebesar Rp 1,21 triliun. Sementara kewajiban Merpati dalam membayar utang mencapai Rp 10,72 triliun.

Oleh karena itu pelepasan Merpati pun menjadi pilihan tepat dalam menyelamatkan keuangan negara. "Ada beberapa pilihan, bahasa terangnya tutup lebih murah dari survive," terang Aloy.

Selain Merpati, terdapat tiga perusahaan lain yang berpotensi membebani keuangan negara. Bersama Merpati, empat perusahaan ini menjadi prioritas pembenahan pemerintah saat ini.

Tiga perusahaan tersebut adalah PT Kertas Leces (Persero), PT Kertas Kraft Aceh (KKA/Persero), dan PT Industri Gelas (Iglas/Persero). Aloy bilang tiga perusahaan tersebut belum mendapatkan persetujuan dari Komite Privatisasi. "Tahun ini kita harus masukkan prosedur baru lagi, usul ke komite lagi," jelas Aloy.

Meski begitu, Aloy pun bilang posisi pemerintah yang siap melepas keempat perusahaan tersebut bila diharuskan. Namun, hal itu perlu melihat prosedur terlebih dahulu dengan melihat keuntungan serta kestrategisan industri tersebut bagi negara.

Perlu diketahui pada tahun 2017 aset Leces sebesar Rp 720 miliar sementara utangnya mencapai Rp 1,34 triliun. Hal serupa juga terjadi pada KKA yang asetnya pada tahun 2017 sebesar Rp 781 miliar dengan utang Rp 1,7 triliun. Sementara aset Iglas pada tahun 2017 sebesar Rp 119,86 miliar dengan utang mencapai Rp 1,09 triliun. kbc10

Bagikan artikel ini: