loading...
Kategori
Rubrik SpesialKadin Jatim
Mode Baca

La Nyalla : Ekonomi Jatim 2010 akan lebih baik

Online: Selasa, 05 Januari 2010 | 22:58 wib ET

Perekonomian Jawa Timur pada 2009 hanya tumbuh 4,8%, jauh lebih rendah dibanding 2008 yang mencapai 5,9%. Mungkinkah pada 2010 kualitas perekonomian provinsi ini bisa lebih baik ?

Berikut dialog Ketua Kadin Jatim La Nyalla Mahmud Mattalitti dengan para pimpinan media massa di Jawa Timur dalam meneropong perekonomian Jatim 2010.

Berikut petikannya:

Bagaimana perkiraan perekonomian Jatim 2010 ?

Kualitas perekonomian 2010 akan lebih baik. Namun Jatim membutuhkan investasi sekitar Rp180 – Rp200 triliun untuk memperkuat struktur perkonomian dengan asumsi pertumbuhan 6%, serta memperbesar aktivitas perdagangan, penguatan sektor UMKM, dan tetap mendorong tingkat konsumsi masyarakat secara proporsional.

Jika asumsi investasi Rp180 – Rp200 triliun bisa tercapai, maka sangat mungkin nilai PDRB Jatim pada 2010 mencapai Rp800 triliun, dan perekonomian Jatim bisa tumbuh 6%.

Namun demikian, sedikitnya ada empat (4) syarat penting yang mendesak dipenuhi oleh Jawa Timur untuk meraih kualitas perekonomian dimaksud pada 2010, diantaranya : 1. Mempercepat standarisasi regulasi & perizinan investasi, 2. Penguatan infrastruktur, 3. Memperkuat fasilitas penunjang strategis, 4. Penguatan sektor bisnis tertentu.

Jika sejumlah syarat itu bisa segera dipenuhi, maka sangat mungkin target realisasi investasi Jatim sekitar Rp180 – Rp200 triliun akan tercapai, dengan asumsi komposisi : PMA & PMDN sekitar Rp35 – Rp40 triliun, Non- PMA & PMDN Rp60 – Rp70 triliun, serta investasi baru sektor UMKM sekitar Rp85 – Rp90 triliun. Khusus sektor UMKM, perlu kebijakan lebih khusus (baca: dukungan lebih serius) terkait dengan pembiayaan, manajerial & skill, serta pemasaran produk UKM.

Bisa lebih rinci dari keempat (4) syarat penting dimaksud?

1. Standarisasi regulasi & perizinan investasi: a. Menghapuskan regulasi (di Provinsi/Kab/Kota) yang tidak pro-investasi, b. Harmonisasi regulasi antara investasi dan pertanahan, c.Standarisasi dan perbaikan kualitas layanan perizinan investasi

2. Penguatan infrastruktur : a. Mempercepat penyelesaian relokasi infrastruktur di Porong, b. Mempercepat ruas tol Mojokerto – Surabaya dan ruas Gempol – Pasuruan, c. Mempercepat penyelesaian pipa gas bawah laut milik Kodeco , d. Pelebaran dan memperdalam alur pelayaran kolam barat di sekitar Tg Perak, e. Diversifikasi pemanfaatan dermaga, misalnya, optimalisasi pemanfaatan dermaga milik Petrokimia Gresik untuk kontainer.

3. Memperkuat fasilitas penunjang strategis : a. Perlunya langkah kongkrit mengatasi defisit pasokan gas untuk industri, b. Perlunya langkah kongkrit atasi defisit listrik untuk industri, c. Kemudahan akses pembiayaan, d. Masih tingginya suku bunga kredit perbankan - diharapkan bisa di bawah 10%.

4. Penguatan sektor bisnis tertentu : a. Penguatan sektor pertanian, b. Industri olahan, d. Penguatan sektor UMKM.

Bukankah pertanian dan UMKM sudah diperhatikan pemerintah?

Menurut kami, sektor pertanian yang nota-bene memiliki potensi ekonomi besar, sejauh ini belum didorong secara maksimal. Alokasi APBD untuk sektor ini masih rendah, dukungan pembiayaan oleh perbankan juga masih minim, pencetakan sawah baru relatif lamban, sementara pengalih-fungsian lahan pertanian ke sektor properti (realestat, kawasan industri, pergudangan) terus meningkat. Padahal sektor pertanian sejauh ini memberi kontribusi besar terhadap PDRB Jatim (termasuk perkebunan, peternakan, perikanan).

Sedangkan sektor UMKM, yang sejauh ini juga memberi kontribusi besar terhadap PDRB Jatim, kondisinya masih jauh dari ideal. Dalam hal akses pembiayaan, misalnya, masih banyak UKM yang belum tersentuh bank. Terkait dengan itu, Kadin Jatim meminta ke Pemprov Jatim untuk segera merealisasi BUMD yang khusus bergerak dibidang penjaminan kredit skala UMKM. Ini untuk memangkas keraguan sebagian besar bank terhadap UMKM.

Sementara itu, meski kredit yang dicairkan oleh bank ke sektor UMKM di Jatim tumbuh 8,5%, yakni dari Rp57,3 triliun pada triwulan III 2008 menjadi Rp 62,2 triliun pada triwulan III 2009, tapi potensi yang perlu mendapatkan kredit bank sebenarnya jauh lebih besar lagi.

Sedangkan kepada kalangan BUMN, Kadin Jatim meminta agar BUMN memperbesar alokasi dana PKBL untuk pembinaan UKM, dan perlu secara bersama-sama dengan Kadin Jatim dalam men-seleksi UKM calon binaannya.

Karakter pengelolaan usaha UMKM, juga perlu diperhatikan semua pihak (Pemda, Kadin, BUMN) – baik aspek manajerial dan skill, maupun penguatan dan perluasan jaringan pasarnya. Perlu diperbanyak pelatihan bagi UKM.

Namun yang terpenting adalah perlu adanya edukasi terhadap pasar agar masyarakat minded terhadap produk dalam negeri (khususnya produk UKM). Kadin Jatim akan banyak membantu Pemda dalam pengembangan usaha skala UMKM di 2010.

Sektor apa lagi yang ikut mempengaruhi ekonomi Jatim ?

Faktor lain yang juga ikut berpengaruh signifikan terhadap kualitas perekonomian Jatim selama ini adalah sektor perdagangan – meski masih didominasi perdagangan dalam negeri. Sedangkan posisi ekspor Jatim pada 2010 diprediksi akan lebih baik dibanding 2009, karena situasi dan kondisi pasar internasional mulai membaik seiring membaiknya perekonomian sejumlah negara maju yang menjadi negara tujuan ekspor.

Khusus perdagangan dalam negeri, Kadin Jatim meminta pemerintah daerah untuk memperhatikan masa depan pedagang-pedagang kecil kelas kampung dan pedagang tradisional yang belakangan semakin terpuruk akibat ’serangan’ toko modern berjaringan skala supermarket. Kadin Jatim akan menyiapkan usulan mengenai penataan perdagangan eceran di daerah.

Apakah pengusaha Jatim siap memasuki FTA ASEAN-CHINA ?

Kami ingin mengingatkan semua pihak, terutama pemerintah, agar memberi perhatian terhadap industri tertentu dalam rangka menghadapi pemberlakuan FTA ASEAN-CHINA. Industri-industri tertentu, terutama skala UMKM perlu mendapat bantuan khusus agar dapat bersaing dengan produk sejenis yang berasal dari negara-negara ASEAN dan CHINA. Produk-produk yang perlu mendapat perhatian antara lain; Sepatu, Tekstil dan Produk Tekstil, Alat-alat Keperluan Rumah Tangga, dll. Jika perhatian ekstra terhadap sejumlah industri itu tidak dilakukan, maka jelas dunia sektor itu di Jatim akan kelabakan. Bukan hanya tidak siap, tapi sudah kelabakan.

Tapi Kadin Jatim akan mempelopori penguatan produk unggulan masing-masing daerah di Jatim (38 kab/kota) untuk mengimbangi aktivitas produk asal China. Kadin Jatim juga akan mengusulkan ke pemerintah pusat agar produk China yang boleh masuk ke Indonesia hanya barang level atas dan mengikuti standar SNI, dan neraca perdagangan Indonesia & China harus seimbang dalam konteks ini.

Bagaimana evaluasi Kadin atas perekonomian Jatim 2009 ?

Lemahnya tensi perekonomian dunia sepanjang 2009 yang dipicu krisis finansial ternyata berimbas negatif terhadap kondisi perekonomian nasional dan memperlambat laju perekonomian Jawa Timur. Target pertumbuhan yang awalnya ditetapkan 5,7% hanya tercapai 4,8% (posisi September 2009) atau jauh di bawah realisasi pertumbuhan 2008 yang tercatat 5,9%.

Meski tidak berkorelasi langsung, rendahnya pertumbuhan Array di 2009 itu hanya mampu menyerap tenaga kerja baru sekitar 15,43% atau setara 262.800 orang. Di sisi lain jumlah tenaga kerja yang kehilangan pekerjaan (termasuk PHK, dirumahkan) lebih besar, sehingga jumlah pengangguran di Jatim masih 1,03 juta orang Array. Sedangkan tingkat kemiskinan masih sekitar 9,5 - 10 juta jiwa hingga akhir 2009.

Banyak hal yang memengaruhi terjadinya pelambatan ekonomi Jatim selama 2009. Namun beberapa hal penting yang secara langsung mempengaruhi di antaranya adalah industri pengolahan yang hanya tumbuh 2,3 – 2,5% pada 2009, atau jauh di bawah realisasi 2008 yang 4,39%. Sedangkan sektor perdagangan di 2009 juga tumbuh lamban, yakni antara 5 – 5,4%, jauh di bawah 2008 yang tumbuh 8,53%.

Kualitas pertumbuhan ekonomi 2009 yang sebagian besar disokong oleh tingkat konsumsi masyarakat (73,5%) juga berpengaruh negatif –di saat investasi hanya menyumbang 17,3%. Realisasi investasi 2009 untuk PMA & PMDN hanya Rp7 triliun, sedangkan non-PMA & PMDN sekitar Rp21 triliun (data olahan s/d Oktober)

Rendahnya realisasi investasi dan turunnya perdagangan luar negeri itu menjelaskan tentang rendahnya pertumbuhan industri pengolahan di Jatim pada 2009. Sementara kontribusi terhadap PDRB di sektor yang tidak dapat diperdagangkan (konstruksi, komunikasi, keuangan, dll) lebih besar dari sektor yang dapat diperdagangkan (pertanian, manufaktur, pertambangan, dll). Sehingga wajar jika pada 2009 tingkat daya serap tenaga kerja relatif rendah, karena sektor riil berjalan lamban. kbc1

Bagikan artikel ini kepada kerabat anda
Kurs USD-IDR
9/23/2014
11.984
IHSG
9/23/2014
5.193,09
-26,71 (-0,51%)