Ada aturan pengetatan kredit macet, Crown Group optimis hadapi pasar properti tahun ini

Selasa, 07 Agustus 2018 | 20:01 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Australian Prudential Regulation Authority (APRA) baru saja mengeluarkan kebijakan untuk memperketat praktik kredit macet sektor perbankan. Aturan ini diharapkan kian memberikan dampak yang sehat bagi bisnis di sektor properti di negara ini.

APRA merupakan otoritas hukum Pemerintah Australia dan regulator prudential industn Jasa keuangan Australia.

Kalangan pengembang properti pun menyambut baik kebijakan ini. Salah satunya perusahaan pengembang terkemuka di Australia, Crown Group, yang memperkirakan harga properti di Sydney, Australia akan terus tumbuh dengan persentase satu digit.

CEO dan Komisarls Crown Group, lwan Sunito menyatakan, pengawasan dari APRA akan semakin memperkuat pasar hunian di Sydney terhadap praktik kredit macet, yang mungkln akan sedikit melambatkan pertumbuhan dalam jangka pendek, namun dalam jangka panjang mampu membuat pasar terhindar dari risiko.

”Harga apartemen di Sydney akan bertahan lebih baik lagi di tahun-tahun mendatang karena ekonomi Australia secara keseluruhan sehat,” kata Iwan Sunito melalui siaran tertulisnya, Selasa (7/8/2018).

Diakuinya, populasi penduduk yang terus tumbuh, tingkat pengangguran dan suku bunga masih relatif rendah dan stabil, pasar tenaga kerja yang kuat dan pendapatan yang meningkat akan mendorong pertumbuhan harga properti di Sydney.

lwan Sunito juga menjelaskan bahwa langkah-langkah pengawasan APRA dan standar kredit yang lebih ketat memiliki beberapa dampak positif pada pasar hunian nasional secara keseluruhan.

”Senang rasanya melihat bahwa kebijakan APRA membantu mengurangi risiko pinjaman dan tetap menjadikan pasar properti kami bahkan lebih sehat. Perubahan ini terutama ditargetkan pada investor properti; karena ini, kami mulai melihat tren baru pembeli hunian pertama Iebih aktif di pasar properti Sydney saat ini, yang menikmati hibah pemerintah dan konsesi bea materai di New South Wales," ulasnya.

Menurut Iwan, hal itu adalah berita yang sangat baik bagi para pembeli dari luar negeri, terutama mereka yang berasal dari Tiongkok dan Indonesia; yang notabene merupakan pasar terbesar Crown Group di luar Australia.

Asal tahu saja, First Home Owners Grant (Rumah Baru) adalah kebijakan hibah pemerintah. Mereka yang membangun properti baru berhak atas hibah sebesar Rp 105 juta untuk rumah senilai hingga Rp 7,5 miliar. Sementara mereka yang membeli properti/hunian baru senilai hingga Rp 6 miliar juga berhak mendagatkan jumlah yang sama yaitu Rp 105 juta.

Menurut data terbaru dari CoreLogic, persentase pembeli rumah pertama telah terIihat berlipat ganda dari 7,5% pada awal 2017 menjadi hampir 15% pada akhir tahun Ialu.

Pasar saat ini menjadi Iebih menguntungkan bagi para pembeli hunian pertama dan ”upgraders" bisa merasa jauh Iebih mudah untuk melakukan Iangkah pertama mereka untuk membeli properti mereka sendiri di pasar properti yang stabil dan sehat.

Di sisi lain, menurut data Australian Bureau of Statistic (ABS) perihal pembiayaan perumahan terbaru, investor "masih aktif di pasar". Meskipun kriteria kemudahan servis yang Iebih ketat dan tingkat hipotek yang Iebih tinggi, investor masih menvumbang 51% dari permintaan hipotek baru, jauh di atas rata-rata jangka panjang sebesar 37%.

”Kami memperkirakan bahwa dengan pasar properti yang stabil, nilai-nilai apartemen diperkirakan akan meningkat dengan persentase satu digit untuk Sydney selama beberapa tahun ke depan,” ujar Iwan Sunito.

Sementara itu, dikutip dari www.therealestateconversation.com.au, Knight Frank, konsultan properti global yang disegani, menyatakan bahwa pasar properti mewah tidak mengalami penurunan.

Menurut Chief of Residential Knight Frank, Australia, Sarah Harding, "Survei Terbaru Knight Frank menunjukkan bahwa Australia adalah tujuan global ketiga yang paling disukai bagi para ultra-high-net-worth yang berencana beremigrasi, setelah Inggris Raya dan Amerika Serikat.

Sementara jumlah individu ultra-kaya di Australia (+Rp.700 Milyar dalam aset bersih) tumbuh sebesar 10% pada tahun 2017

"Komposisi uang yang dialokasikan untuk properti diperkirakan meningkat hingga 23% dari porsi jumlah individu ultra-kaya (UHNWI) global yang mempertimbangkan melakukan pembelian hunian internasional pada tahun ini saja," jelasnya.

Sejak 2014, penjualan hunian "prime" di Sydney (+Rp. 30 milyar) telah meningkat setiap tahunnya.

Harga hunian "prime" di Sydney naik 83% dibanding 2017, menjadikannya kota dengan performa pertumbuhan terbaik ke-9 secara global, sementara Melbourne berada di urutan ke-10, yang berhasil tumbuh sebesar 8,3%.

Dengan kenyataan itu, Crown Group kian optimistis dengan potensi pasarnya di kawasan Sydney. Crown Group sendiri baru saja mengumumkan proyek terbarunya, berlokasi hanya 4km dari CBD Sydney, dan akan diluncurkan pada November mendatang.

Rencana pembangunan yang berlokasi di 48 O'Dea Avenue Waterloo tersebut akan terdiri dari 384 unit apartemen mewah di lima menara hunian, dari 4 hingga 19 lantai serta gabungan restoran, kafe, dan pertokoan.

Menara hunian ini akan dirancang oleh 3 arsitek kelas dunia sekaligus dalam sebuah proyek hunian yang bukan hanya akan menjadi ikon baru namun juga mendobrak batasan inovasi arsitektur di Australia. kbc7

Bagikan artikel ini: