Data stok tak akurat, kekeringan ancam produksi padi

Rabu, 08 Agustus 2018 | 18:12 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI) menilai klaim pemerintah mengenai amannya ketersediaan stok pangan di tengah ancaman kekeringan tidak berdasarkan data akurat. Pasalnya, kekeringan yang terjadi saat ini lebih parah dibandingkan dengan tahun kemarin dan berpotensi menurunkan produksi pangan hingga 60%.

"Saya kira masalah kekeringan perlu dicermati dan diwaspadai pemerintah. Data yang sebagian sudah terkumpul itu di Jawa Timur, itu yang terdampak kekeringan sekitar 15-50 persen. Tapi, itu baru di sebagian wilayah," ujar Ketua AB2TI Dwi Andreas di Jakarta, Rabu (8/8/2018).

Menurutnya kekeringan tersebut terutama berdampak pada wilayah-wilayah yang memiliki infrastruktur irigasi yang minim, baik sawah tadah hujan maupun daerah yang infrastruktur irigasinya sudah berkurang. Dwi memprediksi, berdasarkan berbagai data yang dikumpulkan, kekeringan tahun ini akan lebih kering dibandingkan dengan tahun sebelumnya."Sehingga akan memberikan ancaman terhadap produksi, terutama padi dan jagung," ungkap Dwi.

Dengan adanya kekeringan tersebut, lanjut Dwi terjadi penurunan produksi antara 20-60% dibandingkan dengan produksi pada masa normal. Namun, sebelum terjadinya kekeringan, Dwi juga meragukan kebenaran data produksi dari Kementerian Pertanian (Kementan).

Ia mencontohkan soal klaim Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman yang menyebutkan produksi beras cukup besar pada Januari–Maret 2017 yakni mencapai 15,6 juta ton. Rinciannya produksi pada Januari sebesar 2,8 juta ton, Februari 5,4 juta ton, dan Maret 7,4 juta ton. Namun, harga beras mencapai puncaknya pada Januari 2018.

Bahkan, dari data yang dikumpulkan AB2TI, harga gabah di tingkat petani sempat mencapai Rp 5.667 per kilogram. Angka ini melonjak dibandingkan dengan Oktober sebesar Rp 4.908 per kilogram. Harga kemudian melandai di bulan-bulan berikutnya, seiring produksi beras yang semakin meningkat hingga mencapai Rp 4.319 tiap kilogramnya pada April 2018.

"Januari itu kami melakukan studi, stok gabah petani di jaringan kami itu kosong sama sekali. Itu lah mengapa harga di Januari tinggi. Lalu Februari itu baru mulai masuk masa puncak panen raya. Kalau di jaringan kami, puncak panen raya itu sekitar April," kata Dwi.

Karena itu, Dwi mempertanyakan jika disebutkan produksi mencapai surplus besar dari Januari-Maret. Pasalnya, harga mencerminkan kurangnya produksi dibandingkan dengan tingkat konsumsi.

Kondisi itu yang membuat Dwi menilai data produksi padi yang disampaikan Kementan sangat sulit diyakini kebenarannya."Karena kami juga punya data terkait data panen paling tidak selama 17 tahun terakhir ini," tegasnya.

Sementara itu, Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan, sejumlah daerah telah mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) ekstrem atau lebih dari 60 hari, hingga daerah tersebut perlu diwaspadai terjadinya kekeringan.

Daerah tersebut adalah Sape, NTB, yang tidak mengalami hujan selama 112 hari. Disusul Wulandoni, NTT, selama 103 hari; Bali 102 hari; Kawah Ijen, Jatim, 101 hari; Bangsri, Jateng, 92 hari; DIY tepatnya di Lendah dan Srandakan 82 hari.

Daerah lain yang juga perlu diwaspadai ancaman kekeringan karena hanya memiliki curah hujan rendah di bawah 55 milimeter yaitu sebagian besar Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Maluku Utara, bagian selatan Papua Barat dan Papua sekitar Merauke.

BMKG pun memprediksi puncak musim kemarau akan terjadi pada Agustus dan September 2018. "Terkait stok pangan, kita juga masih belum melihat apakah betul produksi panen pertama tahun ini, yakni Maret-Mei kemarin, bisa menggantikan penurunan produksi musim panen kali ini," tutur Dwi yang juga Pengamat Pertanian dari IPB tersebut.

Kendati demikian, fakta kekeringan di lapangan sepertinya tak memengaruhi optimisme Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Menurutnya produktivitas pertanian pada musim kemarau relatif bagus karena serangan hama berkurang."Justru kalau kondisi cuaca seperti ini dan airnya siap di daerah irigasi itu, produktivitas relatif bagus karena hama berkurang," kata Amran.

Selain itu, Amran mengatakan, Kementan juga tengah fokus menjaga penanaman padi pada Juli, Agustus hingga September dengan meningkatkan jumlah luas tanam dari 500 ribu hektare menjadi 1 juta hektare."Dengan luas lahan yang meningkat maka diharapkan dapat menghindari paceklik," pungkas Amran.kbc11

Bagikan artikel ini: