Genjot devisa negara, kuota ekspor batu bara ditambah 100.000 ton

Kamis, 16 Agustus 2018 | 07:41 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Perusahaan tambang batu bara disarankan untuk memanfaatkan momentum dibukanya tambahan ekspor 100 juta ton sebagai langkah meningkatkan devisa negara.

Saat ini, dari rencana mengekspor 100 juta ton batu bara, Menteri ESDM telah menandatangani persetujuan tambahan awal untuk 25 juta ton.

Dengan penambahan tersebut, diharapkan akan menambah devisa negara hingga US$1,5 miliar. Volume ekspor 25 juta ton yang dibuka, berdasarkan pengajuan penambahan produksi total 25 juta ton beberapa perusahaan.

Direktur Ekeskutif Asosiasi Pertamangan Batubara (APBI) Hendra Sinadia mengatakan dari segi kebijakan memang positif, apalagi jika jumlah yang diekspor diambil dari revisi rencana produksi perusahaan.

"Karena kalau perusahaan mengajukan revisi kan berarti bisa memperkirakan," katanya, Rabu (15/8/2018).

Tahun ini, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan volume ekspor batu bara tahun ini sebesar 371 juta ton, naik 7 juta ton dibandingkan dengan realisasi tahun lalu yang mencapai 364 juta ton.

Target produksi batu bara tahun ini mencapai 485 juta ton, meningkat 5% dibandingkan dengan realisasi produksi 2017 yang mencapai 461 juta ton.

Menurutnya, jika mengelaborasi analisa berbagai pihak, ekspor tahun ini memang sepertinya lebih besar dari target pemerintah.

Dia menambahkan dengan tambahan ekspor batu bara ini, belum dapat disimpulkan apakah langsung berdampak pada harga komoditas. "Nah dibukanya ekspor ini apakah berpengaruh pada harga komoditas, kami belum melihatnya. Itu tantangannya, apakah kebijakan ini berpengaruh pada harga," tambahnya.

Selain itu, dengan meningkatnya produksi tambang batu bara, berarti kebutuhan alat berat pun meningkat. Hendra mengatakan tantangan saat ini pun terkait daftar tunggu antrean alat berat. kbc10

Bagikan artikel ini: