HIPMI Jatim sebut ada tiga tantangan ekonomi para capres

Kamis, 16 Agustus 2018 | 14:59 WIB ET
Ketua HIPMI Jatim Mufti Anam
Ketua HIPMI Jatim Mufti Anam

SURABAYA, kabarbisnis.com: Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Jawa Timur menyambut baik dua pasangan kandidat calon presiden-calon wakil presiden yang akan berkompetisi dalam Pilpres 2019.  

“Kedua pasang kandidat itu semuanya ada putra terbaik bangsa yang akan bisa meningkatkan perekonomian secara berkelanjutan pada masa mendatang. HIPMI Jatim secara keorganisasian tidak mendukung salah satunya, semua diserahkan ke pilihan masing-masing anggota,” ujar Ketua HIPMI Jatim Mufti Anam.

Mufti mengatakan, ke depan ada tiga tantangan utama bidang perekonomian yang harus mampu dijawab oleh para kandidat jika terpilih menjadi presiden dan wakil presiden.

Pertama, tantangan ekonomi global. Saat ini, perekonomian dunia belum sepenuhnya pulih. Situasi makin diperburuk dengan adanya trade war alias perang dagang antara sejumlah negara besar yang bisa berimbas ke Indonesia.

“Dampak perang dagang negara-negara bisa membuat neraca perdagangan kita dalam posisi sulit karena ekspor berpotensi menjadi terbatas. Dan di sisi lain berpotensi ada serbuan barang negara lain ke Indonesia karena barang-barang itu kesulitan masuk ke AS lantaran kebijakan perang dagang yang diikuti dengan melonjaknya tarif impor AS,” jelas Mufti.

“Oleh banyak ekonom, trade war saat ini disebut sebagai perang dagang terbesar sepanjang sejarah. Bayangkan, AS memberlakukan tarif dagang senilai 25% terhadap produk impor China senilai USD34 miliar (Rp488 triliun),” imbuh Mufti.

Tantangan kedua adalah pengembangan SDM. Daya saing bangsa harus ditingkatkan di tengah kompetisi global yang semakin ketat. 

“Sehingga pengembangan SDM menjadi hal yang sangat penting untuk dipentingkan, terutama untuk menyiapkan SDM dengan penguasaan teknologi dan industri yang mumpuni,” ujarnya.

Mufti menceritakan seorang koleganya yang sedang membutuhkan karyawan bidang pemrograman komputer di sebuah kota di Jatim. “Saat membuka lowongan pekerjaan bidang itu, dia hanya mendapat dua pelamar. Sedangkan saat membuka lowongan bagian administrasi, pelamarnya sampai 50 orang. Itu menunjukkan betapa masih terbatasnya SDM teknologi informasi kita,” ujarnya.

Tantangan ketiga adalah pemerataan ekonomi. “Pemerataan dari sisi kewilayahan maupun antar-penduduk perlu terus diturunkan. Apa yang dilakukan pemerintah selama ini dengan penguatan dana desa dan pembangunan kawasan timur Indonesia sudah tepat, tinggal pembenahan aspek-aspek lainnya,” ujarnya.

Momentum Ekonomi

Mufti menambahkan, perhelatan Pilpres dan pemilu legislatif juga merupakan momentum ekonomi yang akan mengatrol pertumbuhan ekonomi Indonesia setidaknya sampai kuartal II/2019.

“Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II/2018 sebesar 5,27 persen, ini cukup bagus di tengah ekonomi global yang masih melambat. Insya Allah sampai akhir tahun tetap bagus karena ada Asian Games dan pemilu presiden dan legislatif. Akan ada perputaran uang cukup besar, yang cukup bisa mengompensasi potensi perlambatan sektor ekonomi lainnya,” papar Mufti.

Bagikan artikel ini: