Kembangkan tanaman biotek, RI perlu contoh Bangladesh

Selasa, 21 Agustus 2018 | 18:10 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Nampaknya Indonesia perlu mencontoh Bangladesh  dalam pengembangan tanaman bioteknologi. Kendati sebagai negara kecil  belum tergolong sebagai ‘negara menengah’ sepertihalnya Indonesia, Bangladesh membuka pintu lebar-lebar terhadap tanaman biotek sebagai opsi ketahanan pangan sekaligus peningkatan kesejahteraan petani.

Sejak 22 Oktober 2013, pemerintah Bangladesh sudah memberikan persetujuan penanaman terong biotek/transgenik atau lebih populer dinamai Bt-Brinjai.Bahkan dalam 100 hari setelah kesepakatan -benih tanaman dapat dikomersialisasikan kepada petani. Selain memberikan peluang usaha, budidaya terong biotek secara drastis mampu menekan penggunaan pestisida sebesar 70 hingga 90%.

"Persetujuan dan komersialisasi terong biotek yang tepat waktu di Bangladesh menggambarkan kemauan politik dan dukungan dari pemerintah yang kuat,” ujar Ketua Dewan Direksi The Internasional Service for the Acquisition of Agri –biotech Applications (ISAAA) Paul S. Teng ketika memaparkan hasil studi di Bogor, kemarin.

Paul menambahkan keberhasilan Bangladesh membudidayakan terong biotek tidak terlepas dari dukungan swasta yang memasok benih secara berkesinambungan. Kini,luas areal penanaman terong biotek  di Bangladesh meningkat pesat hingga 242% atau setara 50.000 hektare (ha) dengan melibatkan 27.000 petani.   

Sebagai catatan saja, kendati Bangladesh belum dapat dikategorikan sebagai negara berpenghasilan menengah, pendapatan per kapita masyarakatnya tercatat US$ 1.677.Pendapatan per kapita masyarakat cukup pesat dibandingkan tahun 2013 yang masih sebesar US$ 976. Bandingkan dengan Indonesia, mengutip data International Monetery Fund , pendapatan per kapita masyarakatnya sudah mencapai US$ 13.120.

Director Global Knowledge Center on Crop Biotechnology Rhodora R.Aldemita mengatakan keberhasilan Bangladesh mengembangkan  budidaya tanaman terong transgenik dapat dicontoh sejumlah negara lainnya. Mengutip riset Abdullah , dari usaha penanaman tanaman transgenik  petani Bangladesh memperoleh pendapatan US$ 1.868 per hektare (ha).

Bahkan sejak 2012, bersama Philipina, Bangladesh telah mengiujicobakan golden rice- beras yang kaya beta karotine mengandung vitamin A.Tahun 2018  fase ini sudah sampai uji lapangan terbatas di lima lokasi dengan ekologis berbeda .

Apabila hal dapat terlewati maka Bangladesh siap melepas varietas beras golden rice ke petani. Untuk penelitian beras golden rice, Bangladesh berada diposisi terdepan ketimbang Indonesia. Bangladesh juga tengah maengujicobakan kapas dan kentang transgenik tahan penyakit

Hasil studi ISAAA menyebutkan pembudidayaan tanaman biotek  sudah dilakukan di 19 negara berkembang diantaranya Bolivia, Myanmar, Sudan, Meksiko, Kolombia, Honduras, Afrika  Selatan dan Vietnam seluas 100,6 juta ha (53 %) total areal seluas 189 juta  ha. Sementara areal penanaman di negara maju mencapai sebesar 89,2 juta ha atau 47%. 

Luas penanaman biotek di seluruh dunia hingga akhir tahun 2017  bertambah 4,7 juta ha atau tumbuh  4%   dibandingkan tahun 2016.Sudah ada 67 negara yang menggunakan tanaman biotek yang terdiri dari 24 negara yang bertanam bioteknologi.

Anggota Komisi Keanakeragaman Hayati (KKH) Prof Mochammad Herman menilai terlampau banyaknya regulasi  justru mengakibatkan komersialisasi tanaman transgenik menjadi lamban. Sebelum dilepas ke pasar,benih trangenik harus memperoleh rekomensasi uji keamanan pangan, pakan dan lingkungan dari tiga kementerian teknis.

Menurutnya dibutuhkan lebih 10 tahun dari proses penyilangan hingga fase regulasi.Secara perdana ,  Indonesia mulai  mengujicobakan tanaman biotek sejak akhir 1998 yakni tanaman kapas transgenik kepada petani di Sulawesi Selatan. Kemudian di tahun 2001, Indonesia lebih dahulu melepaskan varietas kapas transgenik dibandingkan Philipina. Sayangnya, pemilik teknologi menghentikan dengan alasan biaya tinggi karena harus mengimpor kapas dari Amerika Selatan.

Disisi lain, sejumlah lembaga riset bioteknologi baik dalam naungan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan universitas berupaya mengembangkan komoditas pangan bioteknologi . Sejumlah persyaratan yang harus diuji dan mahalnya biaya riset tidak sedikit peneliti yang menunda atau tidak melanjutkan hasil penelitiannya.”Penelitian yang sampai fase uji lapangan terbatas hanya bisa dihitung dengan jari,” kata Herman.

Adapun untuk riset PTPN X dan Universitas Jember serta Universitas Jember yang meneliti tebu trangenik tahan  kekeringan sudah mendapat rekomendasi aman lingkungan, pangan,  dan sertifikat pelepasan varietas dari KKH.Sejak 2016, bolanya berada di Kementerian Pertanian, namun rekomendasi keamanan pakan belum juga dirilis apakah penggunan varietas tebu ini dapat  segera ditanam para petani .kbc11 

Bagikan artikel ini: