Bunga acuan naik, kredit sektor ini dinilai paling rentan

Selasa, 21 Agustus 2018 | 18:25 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Keputusan Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan kembali suku bunga acuan 7 Days Reverse Repo Rate dari 5,25 persen menjadi 5,50 persen berdampak pada sektor perbankan. Imbas dari kenaikan bunga acuan ini salah satunya adalah suku bunga kredit maupun deposito perbankan mau tak mau juga ikut terkerek.

Namun kalang bankir mengakui, kredit propeti dan ritel merupakan dua sektor yang paling sensitif terhadap kenaikan bunga acuan. 

Deputi Komisioner Pengawas Perbankan II Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Boedi Armanto mengatakan, sektor yang paling sensitif terhadap kenaikan bunga acuan adalah kredit konsumer khususnya properti.

Namun Boedi bilang dengan diberlakukannya kembali lagi tiga pilar per akhir Agustus 2017, pergerakan rasio kredit bermasalah atau NPL tidak akan naik signifikan. "Kondisi NPL sudah dicover oleh pencadangan di akhir 2017," kata Boedi, Selasa (21/8/2018).

Ketua Dewan Komisioner OJK, Wimboh Santoso menyarankan bank melakukan efisiensi untuk menjaga risiko kenaikan bunga acuan. Sementara, Anika Faisal, Direktur Kepatuhan BTPN mengatakan sektr ritel merupakan yang cukup sensitif terhadap kenaikan bunga acuan.

Menurut Anika, bank akan selalu menjaga prinsip kehati-hatian. "Bank selalu menjaga kehati-hatian harus ada risk appetite," kata Anika kepada kontan.co.id, Senin (20/8). Pengelolaan NPL menurut Anika merupakan pekerjaan sehari hari bankir. kbc10

Bagikan artikel ini: