Pasok nikel untuk baterai mobil listrik, Vale andalkan tambang di Pomalaa

Rabu, 29 Agustus 2018 | 08:13 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: PT Vale Indonesia Tbk mengandalkan sumber daya di tambang nikel di Pomalaa, Sulawesi Tenggara, sebagai bahan baku baterai mobil listrik. Dalam beberapa waktu terakhir, Vale membidik potensi permintaan bahan baku baterai elektrik dari logam nikel untuk memanfaatkan potensi blok konsesi.

Direktur Utama Cale Indonesia Nico Kanter mengatakan, nikel yang diproduksi di tambang tersebut terdiri dari dua kelas. Nikel kelas dua untuk stainless steel, sementara nikel kelas satu sebagai bahan baku battlerai mobil listrik.

"Yang di Pomalaa, kalau nanti berjalan akan menjadi salah satu bahan untuk jadi baterai mobil listrik," ujar Nico di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (28/8/2018).

Nico berharap pemerintah segera mengatur kebijakan terkait mobil listrik. Dengan demikian, Vale bisa masuk ke sektor tersebut sebagai penyuplai baterai mobil. Sebab, beberapa negara sukses menerapkan mobil listrik untuk mengurangi emisi.

"Jadi kita bisa bantu pemerintah menjalankan apa yang jadi kebijakan pemerintah," kata Nico. "Ini akan menjadi pionir teknologi di Indonesia," lanjut dia.

Sekadar diketahui, realisasi konsumsi nikel untuk baterai saat ini masih rendah. Meski begitu, seiring berkembangnya tren mobil listrik, peningkatan konsumsi untuk baterai cenderung meningkat jika dibandingkan lima tahun lalu yang hanya kisaran 1 persen hingga 2 persen.

Baterai mobil listrik memiliki dua komponen, yaitu kobalt dan nikel. Namun material kobalt jumlahnya masih terbatas dan harganya tinggi, mencapai 80.000  dollar AS per ton. Sehingga, banyak yang mencoba membuat baterai mobil listrik dengan mengurangi kadar kobalt dan memperbanyak nikel agar lebih ekonomis. kbc10

Bagikan artikel ini: