Stok beras BULOG melimpah, akankah spekulan berani tampil di masa paceklik ?

Kamis, 20 September 2018 | 18:50 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Target stok beras akhir tahun Perum BULOG sebesar 3 juta ton akan mempersempit ruang spekulan mempermaikan harga beras selama enam bulan ke depan. Berkaca stok beras BULOG di akhir tahun 2017 dibawah 900.000 ton menjadi ruang bagi spekulan mempermainkan harga beras.

”Sekarang stok BULOG hampir 2,4 juta ton, tapi kita semua tidak tahu persis kondisi perberasan nasional ke depan. Hitungan pasokan aman dengan asumsi BULOG tidak mengeluarkan operasi pasar, tidak ada gejolak harga dan iklim ekstrem dalam dua –tiga bulan mendatang,” ujar Guru Besar Fakultas Pertanian Institus Pertanian Bogor (IPB)  Dwi Andreas Santosa kepada kabarbisnis.com di Jakarta, Kamis (20/9/2018).

Badan Meterologi dan Klimatologi Geofisika (BMKG) sendiri, sambung Dwi Andreas, sudah memprediksi musim kemarau akan berlangsung  Oktober atau November. Artinya, potensi penanaman akan mundur satu-dua bulan.Konsekuensinya, panen raya pun juga akan mengalami mundur menjadi Maret –April 2019.

Dari perjalannya di sejumlah sentra produsen beras, terdapat 21 kabupaten berpotensi panen gadu. Hal tersebut terkonfirmasi ketika Menteri Pertanian Amran Sulaiman dan Dirut Perum BULOG Budi Waseso memperoleh harga beras medium Rp 8.100-Rp 8.250 per kg di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur.

Namun hal tersebut bukan berarti akan menjadi jaminan harga beras tetap bertahan dibawah Harga Eceran Tertinggi (HET) yakni Rp 9.450 per kilogram (kg) ,yakni beras medium dan Rp 12.800 per kg. Menurut Andreas harga beras akan cenderung mengalami kenaikan seiring menipisnya pasokan beras di daerah.

Setidaknya data Pusat Informasi Pangan Stragegis (PIPS)  harga beras berkualitas medium di seluruh Indonesia sudah berkisar Rp 9.200-Rp 14.250 per kg dan kualitas premium Rp 10.150-Rp 15.700 per kg. Sementara data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat rata-rata harga beras di tingkat perdagangan besar/grosir sepanjang Agustus 2018 mencapai Rp 11.899 per kg atau naik 4,3 % dibandingkan Agustus 2017 yang hanya Rp 11.411 per kg.

Berdasarkan data Bank Dunia, rata-rata harga komoditas beras Thailand pada bulan lalu hanya US$405 per ton atau sekitar Rp 5.896,74 per kg, dengan asumsi kurs tengah rata-rata Agustus Rp 14.599,86. Rata-rata harga beras kualitas yang sama dari Vietnam US$401,6 per ton atau berkisar Rp 5.847,24 per kg.

Trend harga beras akan terus mengalami kenaikan hingga di awal tahun 2019, meski psikologi pasar turut memberikan kontribusi. Dari pengamatannya, harga gabah kering panen (GKP) sudah diatas Rp 4.600 per kg. Sementara di Jawa Timur, harga gabah kering panen sudah diatas Rp 5.000 per kg.

Pada momen inilah, kata Dwi Andreas, BULOG dapat menggelontorkan beras secara massif  sebesar 15.000 ton per hari atau  setara 1.350.0000 ton di masa defisit pasokan beras selama enam bulan ke depan.Mengutip data BULOG per 17 September 2018, total stok beras BULOG sebesar 2,39 juta ton.

Sementara cadangan pangan pemerintah sebesar 2,24 juta ton dan pengadaan dalam negeri 817.000 ton. Artinya, 1.427.000 ton / mayoritas porsi pengadaan beras BULOG ditopang oleh impor. Dengan asumsi intervensi harga beras dari Cadangan Beras Pemerintah (CBP) itu , BULOG masih memiliki stok  1,24 juta ton selama enam bulan ke depan.

Jumlah CBP sebesar itu sudah sesuai permintaan pemerintah agar BULOG menjaga beras di akhir tahun antara 1-1,5 juta ton.Perhitungan tersebut tanpa memperhitungkan penyaluran bansos raskin. Menurutnya posisi CBP diatas 1  juta ton yang dikelola BULOG diyakini akan meredam potensi spekulan mempermainkan harga beras disaat persediaan menipis. kbc11

Bagikan artikel ini: